Showing posts with label Humor Nashrudin. Show all posts
Showing posts with label Humor Nashrudin. Show all posts

Monday, 3 February 2014

Kumpulan Humor Nashrudin 3

Sama Rata Sama Rasa
 
Seorang filosof menyampaikan pendapat, "Segala sesuatu harus dibagi sama rata."

"Aku tak yakin itu dapat dilaksanakan," kata seorang pendengar yang skeptik.


"Tapi pernahkah engkau mencobanya ?" balas sang filosof.


"Aku pernah," sahut Nashrudin, "Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa pun yang mereka inginkan."


"Bagus sekali," kata sang filosof, "Dan bagaimana hasilnya ?"


"Hasilnya ? Seekor keledai yang baik dan seorang istri yang buruk."


Manipulasi Deskripsi

Nashrudin kehilangan sorban barunya yang bagus dan mahal. Tidak lama kemudian, Nashrudin tampak menyusun maklumat yang menawarkan setengah keping uang perak bagi yang menemukan dan mengembalikan sorbannya.

Seseorang protes, "Tapi penemunya tentu tidak akan mengembalikan sorbanmu.


Hadiahnya tidak sebanding dengan harga sorban itu."


"Nah," kata Nashrudin, "Kalau begitu aku tambahkan bahwa sorban itu sudah tua, kotor, dan sobek-sobek."
 
Umur Nashrudin
 
"Berapa umurmu, Nashrudin ?"

"Empat puluh tahun."


"Tapi beberapa tahun yang lalu, kau menyebut angka yang sama."


"Aku konsisten."
 
Bahasa Kurdi
 
Tetangga Nashrudin ingin belajar bahasa Kurdi. Maka ia minta diajari Nashrudin. Sebetulnya Nashrudin juga belum bisa bahasa Kurdi selain beberapa patah kata. Tapi karena tetangganya memaksa, ia pun akhirnya bersedia.

"Kita mulai dengan sop panas. Dalam bahasa Kurdi, itu namanya Aash."
"Bagaimana dengan sop dingin ?"


"Hemm. Perlu diketahui bahwa orang Kurdi tidak pernah membiarkan sop jadi dingin. Jadi engkau tidak akan pernah mengatakan sop dingin dalam bahasa Kurdi."
 
Yang Tersulit
 
Salah seorang murid Nashrudin di sekolah bertanya, "Manakah keberhasilan yang paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu ?"

"Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya," kata Nasruddin.
"Apa itu?"


"Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya."
 
Harmoni Buah-Buahan

Nashrudin bersantai di bawah pohon arbei di kebunnya. Dilihatnya seluruh kebun, terutama tanaman labu yang mulai berbuah besar-besar dan ranum. Seperti biasa, Nashrudin merenung.

"Aku heran, apa sebabnya pohon arbei sebesar ini hanya bisa menghasilkan buah yang kecil. Padahal, labu yang merambat dan mudah patah saja bisa menghasilkan buah yang besar-besar."


Angin kecil bertiup. Ranting arbei bergerak dan saling bergesekan. Sebiji buah arbei jatuh tepat di kepala Nashrudin yang sedang tidak bersorban.


"Ah. Kurasa aku tahu sebabnya."
 
Penyelundup
 
Ada kabar angin bahwa Mullah Nashrudin berprofesi juga sebagai penyelundup. Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapislapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nashrudin memang sering harus melintasi batas wilayah.

Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. "Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu. Sekarang, jawablah penasaranku: apa yang engkau selundupkan ?"


"Jubah," kata Nashrudin, serius.
 
Jangan Terlalu Dalam
 
Telah berulang kali Nashrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nashrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka Nashrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.

Nashrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nashrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nashrudin.


Nashrudin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"


Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"


"Yah," jawab Nashrudin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Nashrudin.
 
Tampang Itu Perlu

Nashrudin hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah yang mengeluh.

"Tapi aku mengabdi kepada Allah saja," kata Nashrudin.


"Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah," kata istrinya.


Nashrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, "Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!" berulang-ulang. Tetangganya ingin mempermainkan Nashrudin. Ia melemparkan seratus keping perak ke kepala Nashrudin. Tapi ia terkejut waktu Nashrudin membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak "Hai, aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah."


Sang tetangga menyerbu rumah Nashrudin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya. Nashrudin menjawab "Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah."


Tetangganya marah. Ia mengajak Nashrudin menghadap hakim. Nashrudin berkelit, "Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang miskin."


Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.


Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nashrudin segera mengadukan halnya pada hakim.


"Bagaimana pembelaanmu?" tanya hakim pada Nashrudin.


"Tetangga saya ini gila, Tuan," kata Nashrudin.
"Apa buktinya?" tanya hakim.


"Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi pula uang saya."


Dengan kaget, sang tetangga berteriak, "Tetapi itu semua memang milikku!"


Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.
 
Membedakan Kelamin

Seorang tetangga Nashrudin telah lama bepergian ke negeri jauh. Ketika pulang, ia menceritakan pengalaman-pengalamannya yang aneh di negeri orang.


"Kau tahu," katanya pada Nashrudin, "Ada sebuah negeri yang aneh. Di sana udaranya panas bukan main sehingga tak seorangpun yang mau memakai pakaian, baik lelaki maupun perempuan."


Nashrudin senang dengan lelucon itu. Katanya, "Kalau begitu, bagaimana cara kita membedakan mana orang yang lelaki dan mana yang perempuan?"
 
Miskin Dan Sepi
 
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.

Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nashrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah.


"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.


"Jangan khawatir," jawab Nashrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."


Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"


"Bukan begitu maksudku. Kau salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."
 
Hidangan Untuk Baju (1)

Nashrudin menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Dengan kecewa Nashrudin pulang kembali.

Namun tak lama, Nashrudin kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuang Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya.


Tetapi Nashrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu!"


Untuk mana ia memberikan alasan "Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku."
 
Hidangan Untuk Baju (2)

Nashrudin menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dilihatnya seorang sahabatnya sedang asyik makan. Namun, di samping makan sebanyak-banyaknya, ia sibuk pula mengisi kantong bajunya dengan makanan.

Melihat kerakusan sahabatnya, Nashrudin mengambil teko berisi air. Diam-dian, diisinya kantong baju sahabatnya dengan air. Tentu saja sahabatnya itu terkejut, dan berteriak, "Hai Nashrudin, gilakah kau ? Masa kantongku kau tuangi air!"


"Maaf, aku tidak bermaksud buruk, sahabat," jawab Nashrudin, "Karena tadi kulihat betapa banyak makanan ditelan oleh kantongmu, maka aku khawatir dia akan haus. Karena itu kuberi minum secukupnya."
 
Kekekalan Massa
 
Ketika memiliki uang cukup banyak, Nashrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."

Ketika malam itu Nashrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja.


"Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"


Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"


Nashrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras, "Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?"
 
Terburu-Buru
 
Keledai Nashrudin jatuh sakit. Maka ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya. Begitu Nashrudin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara Nashrudin berpegangan di atasnya, ketakutan.

Nashrudin mencoba membelokkan arah kuda. Tapi sia-sia. Kuda itu lari lebih kencang lagi.


Beberapa teman Nashrudin sedang bekerja di ladang ketika melihat Nashrudin melaju kencang di atas kuda. Mengira sedang ada sesuatu yang penting, mereka berteriak, "Ada apa Nashrudin ? Ke mana engkau ? Mengapa terburu-buru ?"


Nashrudin balas berteriak, "Saya tidak tahu ! Binatang ini tidak mengatakannya kepadaku !"
 
Periuk Beranak

Nashrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia
mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.


"Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat."


Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nashrudin pun pulang.


Beberapa hari kemudian, Nashrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nashrudin,


Sambil terisak-isak, Nashrudin menyambut tamunya, "Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan."


Sang tetangga menjadi marah, "Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!"


"Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia," kata Nashrudin, sambil menghentikan isaknya.
 
Bahasa Burung
 
Dalam pengembaraannya, Nashrudin singgah di ibukota. Di sana langsung timbul kabar burung bahwa Nashrudin telah menguasai bahasa burung-burung. Raja sendiri akhirnya mendengar kabar itu. Maka dipanggillah Nashrudin ke istana.

Saat itu kebetulan ada seekor burung hantu yang sering berteriak di dekat istana.


Bertanyalah raja pada Nashrudin, "Coba katakan, apa yang diucapkan burung hantu itu!"


"Ia mengatakan," kata Nashrudin, "Jika raja tidak berhenti menyengsarakan rakyat, maka kerajaannya akan segera runtuh seperti sarangnya."
 
Jatuhnya Jubah

Nashrudin pulang malam bersama teman-temannya. Di pintu rumah mereka berpisah. Di dalam rumah, istri Nashrudin sudah menanti dengan marah. "Aku telah bersusah payah memasak untukmu sore tadi !" katanya sambil menjewer Nashrudin. Karena kuatnya, Nashrudin terpelanting dan jatuh menabrak peti. Mendengar suara gaduh, teman-teman Nashrudin yang belum terlalu jauh kembali, dan bertanya dari balik pintu, "Ada apa Nashrudin, malam-malam begini ribut sekali?"

"Jubahku jatuh dan menabrak peti," jawab Nashrudin.


"Jubah jatuh saja ribut sekali ?"


"Tentu saja," sesal Nashrudin, "Karena aku masih berada di dalamnya."

Relativitas Keju

Setelah bepergian jauh, Nashrudin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira, "Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.


"Alhamdulillah," puji Nashrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."


Tidak lama Nashrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.


"Adakah keju untukku ?" tanya Nashrudin.


"Tidak ada lagi," kata istrinya.


Kata Nashrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."


"Jadi mana yang benar ?" kata istri Nashrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"


"Itu tergantung," sambut Nashrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."


Ketakutan Mendatangkan Keajaiban

Untuk memberi hadiah kepada kaisar Timur Lenk, Nashrudin memasak seekor angsa. Tapi di tengah jalan, Nashrudin tidak dapat menahan diri sehingga memakan satu pahanya.


Kaisar yang menerima hadiah itu bertanya, "Dimana kaki yang satunya?" Nashrudin menjawab, "Semua angsa di kota ini berkaki satu." Ini sindiran buat Timur Lenk yang hanya berkaki satu, yakni pincang.
  
Nashrudin berkata lebih lanjut, "Jika anda tak percaya, lihatlah angsa di depan, di tepi kolam anda!" Memang saat itu angsa tersebut sedang berdiri di bawah terik matahari sambil mengangkat satu kakinya dan menyembunyikan kepalanya di dada. Timur Lenk memandang ke arah angsa tersebut dan untuk sementara menerima argumentasi Nashrudin.

Beberapa saat kemudian, secara diam-diam Timur Lenk memerintahkan pada pemusik kerajaan untuk mendekat ke kolam. Tak lama kemudian genderang dipukul, sehingga angsa itu pun terkejut setengah mati dan berlari kesana-kemari.


Timur Lenk lalu menoleh ke arah Nashrudin dan berkata, "Bagaimana kamu berani berbohong padaku?! Bukankah kamu lihat, angsa itu berjalan dengan dua kaki?!"

Nashrudin menjawab, "Tetapi anda lupa, bahwa ketakutan dapat mendatangkan keajaiban. Andaikata anda dilanda ketakutan sebagaimana hewan mengalami ketakutan, maka anda akan berlari dengan empat kaki."

Kumpulan Humor Nashrudin 2

Nashrudin Hoja
 
Nashrudin adalah seorang sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol. Sewaktu masih sangat muda, Nashrudin selalu membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya, sehingga mereka sering lalai akan pelajaran sekolah.
 
Maka gurunya yang bijak bernubuwat: "Kelak, ketika engkau sudah dewasa,engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan menertawaimu."


Nashruddin Dan Filsafat
 
Ketika Timur Lenk menguasai kota Aq Syahr, datang seorang pengikut filsafat. Ia mengutarakan kepada Timur Lenk, dengan bantuan seorang juru bicara, bahwa ia ingin menguji ulama Aq Syahr.
 
Timur Lenk mengumpulkan seluruh ulama dan berkata pada mereka, "Seorang laki-laki ahli filsafat ingin menguji kalian. Jika tidak seorangpun dapat menjawab pertanyaannya, mereka menganggap bahwa negara Romawi tidak memiliki seorang ulama pun, dan bahwa ilmu itu telah sirna. Bila hal itu terjadi, harga diri kalian hilang."
 
Ulama Aq Syahr lalu berkumpul di suatu ruangan khusus dan memusyawarahkan masalah tersebut. Mereka agak putus asa memikirkan bagaimana caranya mengatasi bahaya yang siap menghadang di hadapan mereka. Bahkan mereka akan menyewa ulama dari luar daerah untuk menghadapinya, meskipun tempatnya jauh.
 
Akhirnya mereka sepakat untuk mengajukan Syekh Nashruddin. Mereka mengutus seseorang untuk menemuinya, dan Nashruddin pun menerima kedatangan mereka. Lalu diutarakanlah apa yang mengganggu pikiran mereka.
 
Nashruddin berfikir sejenak, lantas berkata: "Serahkan urusan ini kepadaku!"
 
Mereka bertanya, "Apa yang akan anda lakukan?"
 
Nashruddin menjawab, "Aku akan mengadakan tanya jawab dengannya. Jika jawabanku tepat, itu bagus. Bila tidak, aku pasti akan berkata 'Aku laki-laki jadzab, aku masuk sesuai kehendak hatiku'. Lalu kalian hendaknya berkata, 'Kami tidak menganggapnya sebagai orang pandai.' Lalu datangkan orang selain aku! Bila aku berhasil, kalian harus memberiku hadiah."
 
Mereka menjawab, "Baiklah, apapun yang anda inginkan, akan kami usahakan.Yang penting, laki-laki itu harus kalah."
 
Pada hari yang telah ditentukan, sebuah panggung didirikan di sebuah lapangan yang luas. Timur Lenk duduk dengan pakaian perang dikelilingi para prajurit yang bersenjata lengkap.
 
Laki-laki ahli filsafat itu hadir. Rambutnya tidak menarik dan bentuknya lucu. Ia lalu duduk di dekat singgasana kerajaan. seluruh hadirin menunggu kedatangan Syekh Nashruddin, rival ahli filsafat itu.
 
Nashruddin hadir dengan mengenakan surban besar dan berjubah. Di belakangnya mengiringi para muridnya, di antaranya Hamad. Mereka berdua masuk ke panggung dan Nashruddin duduk di sebelah Timur Lenk. Setelah minum dan istirahat sejenak, ahli filsafat itu maju ke tengah dan membuat lingkaran. Ia lalu menunggu jawabannya dengan memandang ke arah Nashruddin.
 
Nashruddin berdiri dan menancapkan tongkatnya tepat di tengah lingkaran. Ia membagi lingkaran menjadi dua bagian, dan memandang ke arah ahli filsafat. Lalu Nashruddin membuat garis lagi, sehingga lingkaran terbagi menjadi empat bagian. Tiga bagian menuju ke arah Nashruddin dengan isyarat jari dan satu bagian untuk si ahli filsafat. Nashruddin meletakkan kedua tangannya di belakang punggung yang diarahkan ke ahli filsafat. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin itu. Ia merasa, bahwa Nashruddin tahu apa yang dimaksudkannya.
 
Selanjutnya ahli filsafat membuat kedua tangannya dan membentuknya seperti kerah baju. Lalu kedua tangan itu diturunkan dari atas ke bawah dan jari jemarinya terbuka, lalu kedua tangannya dinaikkan ke udara beberapa kali. Nashruddin berbuat sebaliknya: membuka jari jemarinya dan iturunkan ke bawah. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin.
 
Setelah itu, ahli filsafat meletakkan jari jemarinya di atas tanah dan berjalan merangkak sebagaimana layaknya binatang. Ia mengisyaratkan ke arah perut, seakanakan keluar sesuatu dari dalam perutnya. Nashruddin mengeluarkan sebutir telur dari saku dan menggerakkan kedua tangannya seakan hendak terbang.
 
Melihat jawaban Nashruddin, ahli filsafat itu sangat puas dan kagum. Ia maju ke arah Nashruddin dan mencium tangannya dengan penuh penghormatan. Ia mengatakan, bahwa Aq Syahr beruntung mempunyai seorang cerdik pandai seperti Nashruddin.
 
Seluruh hadirin memberikan ucapan selamat kepada Nashruddin dan memberikan hadiah yang melimpah serta uang banyak. Bahkan ada yang menjanjikan harta benda di lain waktu. Tidak ketinggalan Timur Lenk memberi hadiah kepada Nashruddin dan menempatkannya di kelompok orang kaya.
 
Setelah semua penonton bubar, Timur Lenk dan para pengawalnya mengelilingi ahli filsafat dan bertanya dengan bantuan juru bahasa, "Kami tidak mengerti isyarat-isyarat yang anda lakukan dengan Syekh Nashruddin. Jelaskan kepada kami apa yang terjadi sebenarnya?"
 
Ahli filsafat menjawab, "Melihat perselisihan ulama filsafat Yunani dan ulama Bani Israil tentang terbentuknya alam semesta, saya tidak tahu apa pendapat ulama Islam tentang hal tersebut. Maka saya ingin mempelajarinya. Saya isyaratkan pada Nashruddin bahwa bumi itu bulat dan besar. Nashruddin membenarkan ucapan saya dan berkata, 'Bumi itu terbagi menjadi dua bagian. Setengah lingkaran utara dan setengah belahan selatan.' Lalu Nashruddin membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian ke arahnya dan satu bagian ke arahku. Ia mengisyaratkan, bahwa tiga bagian bumi adalah lautan dan satu bagian daratan. Nashruddin juga memberitahukan bahwa bumi terbagi menjadi tujuh negara. Lebih lanjut saya isyaratkan isi bumi dan rahasianya dengan mengangkat jari jemari ke udara dan menggerakkannya, maksudku tumbuh-tumbuhan, barang tambang dan bagaimana proses terjadinya. Syekh Nashruddin mengangkat kedua tangannya menunjuk ke bawah dan mengisyaratkan turunnya hujan adalah ke bawah, yang tercurah dari langit. Kekuatan matahari dan pengaruh makhluk angkasa di bundaran bumi membantu proses bumi, sehingga mendatangkan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Cara Nashruddin menjelaskan hal itu sesuai dengan pendapat ulama filsafat periode akhir. Kemudian aku isyaratkan tentang perkembang-biakan makhluk dengan melalui proses pembuahan. Namun banyak yang terlewatkan olehku, lalu Nashruddin bermaksud menunjukkan sebagian dari makhluk secara global. Karena itu, saya jadi tahu bahwa Syekh kalian memang pandai dan menguasai pengetahuan tentang langit dan bumi, maupun ilmu logika dan ketuhanan. Dan ia termasuk seorang ahli filsafat. Kalian patut bangga dengan adanya ahli filsafat seperti dia di negeri kalian."
 
Lalu mereka berpamitan kepada ahli filsafat dengan penuh penghormatan. Setelah itu mereka ganti menjumpai Nashruddin dan meminta penjelasan atas jawaban-jawabannya.
 
Berkatalah Nashruddin kepada mereka, "Ahli filsafat itu sedang kelaparan seperti halnya diriku. Ketika ia menggambar lingkaran, maksudnya adalah bahwa di depan rumahnya terdapat kue berbentuk seperti lingkaran yang dibuatnya. Aku membaginya menjadi dua bagian dengan maksud agar sama rata. Akan tetapi, karena ia tidak faham, aku membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian untukku dan satu bagian untuknya. Ia setuju dan mengiyakan dengan isyarat kepala.
 
Selanjutnya, ia mengisyaratkan beras di atas api. Aku isyaratkan kepadanya tentang memasukkan pula bumbu, garam, kismis, dan fustuq ke dalamnya. Ketika berjalan ia bermaksud memberitahukan bahwa dirinya sangat lapar dan menginginkan makanan lezat. Aku isyaratkan kepadanya, bahwa dirku bahkan lebih lapar darinya yang nyaris membuatku terbang karenanya. Pagi hari aku ingin membuat kue, namun yang kutemukan hanya sebutir telur pemberian istriku. Aku belum sempat menelannya ketika kalian memanggilku. Lalu kumasukkan ke dalam saku dan menjaganya secara hati-hati."
 
Seluruh hadirin berkata, "Demi Allah, ini hal yang hebat dan menakjubkan! Bagaimana anda mengerti permasalahannya dan menjawab seperti itu? Ahli filsafat menerima dan membenarkan jawaban Anda, padahal jawaban Anda tersebut tidak seperti yang diinginkannya." Demikianlah, mereka semua bergembira dan tertawa riang lalu pulang ke rumah masing-masing. Sekalipun demikian mereka tetap bingung.
(baca cerita sejenis dari tradisi Kristiani dan Zen Buddha)
 
Perusuh Rakyat
 
Kebetulan Nashrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena ingin tahu, Nashrudin mencoba mendekati pintu istana. Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.
 
"Menjauhlah engkau, hai mullah!" teriak pengawal. [Nashrudin dikenali sebagai mullah karena pakaiannya]
 
"Mengapa ?" tanya Nashrudin.
 
"Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !"
 
"Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?"
 
"Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !"
 
"Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?" kata Nashrudin sambil beranjak dari tempatnya.
 
Api
 
Hari Jum`at itu, Nashrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
 
"Api ! Api ! Api !"
 
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
 
"Dimana apinya, Mullah ?"
 
Nashrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."
 
Yang Benar-Benar Benar
 
Nashrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nashrudin berkomentar: "Aku rasa engkau benar."
 
Petugas majelis membujuk Nashrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nashrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nashrudin kembali berkomentar: "Aku rasa engkau benar."
 
Petugas mengingatkan Nashrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah ! Nashrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar: "Aku rasa engkau benar."
 
Tampak Seperti Wujudmu
 
Nashrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.
 
"Oh kasih yang agung. Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu. Segala yang tampak oleh mataku. Tampak seperti wujud-Mu."
 
Seorang tukang melucu menggodanya, "Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?"
 
Nashrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten:  "Tampak seperti wujudmu."
 
Mimpi Religius
 
Nashrudin sedang dalam perjalanan dengan pastur dan yogi. Pada hari kesekian, bekal mereka tinggal sepotong kecil roti. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu.
 
Setelah debat seru, akhirnya mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi paling relijius. Tidurlah mereka.
 
Pagi harinya, saat bangun, pastur bercerita: "Aku bermimpi melihat kristus membuat tanda salib. Itu adalah tanda yang istimewa sekali."
 
Yogi menukas, "Itu memang istimewa. Tapi aku bermimpi melakukan perjalanan ke nirwana, dan menemui tempat paling damai."
 
Nashrudin berkata, "Aku bermimpi sedang kelaparan di tengah gurun, dan tampak bayangan nabi Khidir bersabda 'Kalau engkau lapar, makanlah roti itu.' Jadi aku langsung bangun dan memakan roti itu saat itu juga.
 
Nasib Dan Asumsi
 
"Apa artinya nasib, Mullah ?"
 
"Asumsi-asumsi."
 
"Bagaimana ?"
 
"Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah itu yang disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa halhal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi. Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib."
 
Menjual Tangga
 
Nashrudin mengambil tangganya dan menggunakannya untuk naik ke pohon tetangganya. Tetapi sang tetangga memergokinya.
 
"Sedang apa kau, Nashrudin ?"
 
Nashrudin berimprovisasi, "Aku ... punya sebuah tangga yang bagus, dan sedang aku jual."
 
"Dasar bodoh. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!" kata sang tetangga,marah. Nashrudin bergaya filosof. "Tangga, bisa dijual di mana saja."
 
Jatuh Ke Kolam
 
Nashrudin hampir terjatuh ke kolam. Tapi orang yang tidak terlalu dikenal berada di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada saat yang tepat. Namun setelah itu, setiap kali bertemu Nashrudin orang itu selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nashrudin berterima kasih berulang-ulang.
 
Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nashrudin mengajaknya ke lokasi, dan kali ini Nashrudin langsung melompat ke air.
 
"Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana!"
 
Pada Sebuah Kapal
 
Nashrudin berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan, tetapi Nashrudin selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk. Orang-orang tak mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para penumpang mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat.
 
"Teman-teman!" teriak Nashrudin. "Jangan boros dengan janji-janji indah! Aku melihat daratan!"

Jubah Hitam
 
Nashrudin berjalan di jalan raya dengan mengenakan jubah hitam tanda duka, ketika seseorang bertanya, "Mengapa engkau berpakaian seperti ini, Nashrudin? Apa ada yang meninggal."
 
"Yah," kata sang Mullah, "Bisa saja terjadi tanpa kita diberi tahu."
 
Pelayan Raja
 
Nashrudin menjadi orang penting di istana, dan bersibuk mengatur urusan di dalam istana. Suatu hari raja merasa lapar. Beberapa koki menyajikan hidangan yang enak sekali.
 
"Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah ?" tanya raja kepada Nashrudin.
 
"Teramat baik, Tuanku."
 
Maka raja meminta dimasakkan sayuran itu setiap saat. Lima hari kemudian, ketika koki untuk yang kesepuluh kali memasak masakan yang sama, raja berteriak: "Singkirkan semuanya! Aku benci makanan ini!"
 
"Memang sayuran terburuk di dunia, Tuanku." ujar Nashrudin.
 
"Tapi belum satu minggu yang lalu engkau mengatakan bahwa itu sayuran terbaik."
 
"Memang benar. Tapi saya pelayan raja, bukan pelayan sayuran."

Thursday, 2 January 2014

Kumpulan Humor Nashrudin 1

Ikut Hilang
 
Keledai milik Nashrudin hilang entah kemana.
 

Nashrudin segera mencarinya kesana-kemari, namun tak juga menemukannya.
 

Akan tetapi, Nashrudin malah memuji Allah sehingga orang-orang bertanya padanya, “Mengapa engkau bersyukur?”

Nashrudin menjawab, “ Aku tidak menaiki keledaiku. Andaikata aku menaikinya, niscaya aku ikut hilang bersamanya.”

Belajar Kebijaksanaan

Seorang darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nashrudin. Nashrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nashrudin dan melihat perilakunya.

Malam itu Nashrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya. "Mengapa api itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih panas dan lebih besar apinya," jawab Nashrudin.

Setelah api besar, Nashrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nashrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya.

"Mengapa sop itu kau tiup?" tanya sang darwis. "Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Nashrudin.

"Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu," ketus si darwis, "Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."

Ah, konsistensi.


Cara Menolong Orang Yang Kikir

Pada suatu hari, bersama beberapa temannya, Nashrudin berwisata ke sebuah hutan. Bersama mereka, ikut juga seorang kaya-raya yang terkenal kikir. Setelah makan, mereka naik perahu di sebuah telaga yang lumayan besar. Tanpa disengaja, si orang kaya yang kikir tergelincir dari perahu hingga tercebur ke dalam telaga dan nyaris tenggelam karena ia tak bisa berenang. 


Teman-teman Nashrudin saling berlomba untuk menyelamatkan orang kaya itu dan berseru, "Berikan tanganmu! Berikan tanganmu!" Tapi, meski sudah diteriaki berulang kali dan hampir tenggelam, orang itu tetap tak mau juga mengulurkan tangannya. 

Nashrudin melihat hal ini dan menyuruh teman-temannya minggir, "Menyingkirlah kalian karena kalian tak tahu cara menolongnya. Ia nyaris tenggelam dan tak mendengar ucapan kita. Orang pelit tidak pernah mengenal kata 'memberi', tapi mereka biasa memakai kata 'mengambil'. Lihatlah caraku menolong orang ini."
 

Maka Nashrudin mendekat ke arah orang kaya yang sedang megap-megap tersebut dan berkata, "Tuan Bakar Afandi, Ambillah tanganku! Cepat, ambil tanganku!" Seketika itu juga si orang kaya meraih tangan Nashrudin, dan berkata, "Semoga Allah meridhoimu, wahai saudaraku!" Lalu Nashrudin menarik orang itu dan akhirnya berhasil menyelamatkannya.

Cara Membaca Buku
 
Seorang yang filosof dogmatis sedang menyampaikan ceramah. Nashrudin mengamati bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering menggunakan aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah didiskusikan dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik, dianalogikan dengan cara yang tidak semestinya.

Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri. Nashrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya dengan serius, Nashrudin membuka halaman demi halaman, berdiam diri. Lama sekali. Sang penceramah mulai kesal.

"Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!"

"Aku tahu," jawab Nashrudin acuh, "Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya mempelajari jalan pikiranmu."

Gelar Timur Lenk

Timur Lenk mulai mempercayai Nashrudin, dan kadang mengajaknya berbincang soal kekuasaannya.

"Nashrudin," katanya suatu hari, "Setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil 'Alallah, Al-Mu'tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?"

Cukup sulit, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tapi tak lama, Nashrudin menemukan jawabannya. "Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu-Billah* saja."
* "Aku berlindung kepada Allah (darinya)"

Harga Kebenaran

Seperti biasanya, Nashrudin memberikan pengajaran di mimbar. "Kebenaran," ujarnya "adalah sesuatu yang berharga. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga memiliki harga material."

Seorang murid bertanya, "Tapi mengapa kita harus membayar untuk sebuah kebenaran ? Kadang-kadang mahal pula ?"

"Kalau engkau perhatikan," sahut Nashrudin, "Harga sesuatu itu dipengaruhi juga oleh kelangkaannya. Makin langka sesuatu itu, makin mahallah ia."

Bersembunyi

Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nashrudin. Kabetulan Nashrudin sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian aja, Nashrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah. Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga. Akhirnya ia membuka peti besar, dan memergoki Nashrudin yang bersembunyi.

"Aha!" kata si pencuri, "Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?"

"Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini."

Keadilan Dan Kelaliman

Tak lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:

"Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal."

Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini. Dan akhirnya, tibalah waktunya Nashrudin diundang. Ini adalah perjumpaan resmi Nashrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali bertanya dengan angkuh :

"Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal."

Dan dengan menenangkan diri, Nashrudin menjawab :

"Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami."

Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk lebih lanjut.

Keledai Membaca

Timur Lenk menghadiahi Nashrudin seekor keledai. Nashrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

"Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."

Nashrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nashrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nashrudin.

"Demikianlah," kata Nashrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca."

Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"

Nashrudin berkisah, "Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."

"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"

Nashrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?"


Rumah Reyot Bersujud

Suatu hari Nashrudin pergi ke sebuah kota. Nashrudin menginap di sebuah penginapan tua di kota itu. Penginapan itu reyot dan banyak kayu-kayunya yang sudah lapuk. 


Pada hari kedua Nashrudin berkata kepada pemilik penginapan, “Pak, sepanjang malam saya mendengar suara gemeretak di atas kamar tempat saya menginap. Barangkali anda bersedia memanggil seorang tukang kayu untuk memeriksa bagian atap kamar.” 

Tetapi karena gengsi, sang pemilik penginapan berkata, “Penginapan ini sangat kokoh, tak mungkin roboh! Sedangkan yang kau dengar itu adalah suara tasbih dan tahlil kepada Allah yang dibaca oleh semua yang ada.” 

Maka Nashrudin berkata, “Anda benar. Tetapi yang aku takutkan adalah bila kayu-kayu itu bertasbih dan bertahlil tanpa henti, lalu hati mereka menjadi terhanyut, kemudian mereka akan segera bersujud tanpa henti.”

Monday, 30 December 2013

Memilih Kebijaksanaan

Memilih Kebijaksanaan - Nashruddin berbincang-bincang dengan seorang hakim kota. Si hakim kota sering berpikir hanya dari satu sisi.
 

“Seandainya saja setiap orang mau
mematuhi hukum dan etika, ...” kata si hakim sedikit ketus.
 

Nashruddin buru-buru berkata, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukumlah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”
 

Hakim mencoba mengelak, “Tapi, coba kita lihat cendekiawan seperti Tuan. Kalau Tuan diberi pilihan, kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan Tuan pilih?”
 

Nashruddin menjawab seketika, “Tentu saya memilih kekayaan.”
 

Hakim membalas sinis, “Memalukan! Tuan adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Tuan memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”
 

Nashruddin balik bertanya, “Kalau pilihan Tuan sendiri?”
 

Hakim menjawab tegas, “Tentu saya memilih kebijaksanaan.”
 

Nashruddin berkata, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.
 

Ibrah yang bisa kita petik dari kisah humor sufi di atas antara lain adalah adab mengkritik.
 

Tak ada gading yang tak retak. Sesungguhnya kesalahan dan kekhilafan merupakan sifat yang melekat pada setiap diri anak-cucu Adam. Tidak ada seorang pun yang ma'shum selain para nabi dan rasul. Oleh karena itu, setiap manusia mestinya terbuka terhadap kritik.
 

Meski demikian, ada etika yang patut diperhatikan oleh setiap pihak yang 
ingin mengkritik pihak yang dipandang bersalah. Antara lain, pertama, kritikan harus didasarkan pada ilmu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, "Hendaknya setiap orang yang melakukan amar ma'ruf nahi mungkar adalah seorang yang alim terhadap apa yang ia katakan."
 

Kedua, kritikan disampaikan dengan lembut dan santun. Kelembutan dan kesantunan dalam setiap perkara akan mendatangkan kemudahan. Bersikap lembut adalah hukum yang paling mendasar dalam mengkritik, apalagi pihak yang dikritik adalah seorang tokoh yang memiliki pengikut. Bahkan kepada 
Fir’aun pun, Allah SWT memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimassalam untuk menyampaikan kebenaran dengan lemah lembut, “Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya (Fir`aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” – QS Tha-Ha (20): 44.
Dalam mengkritik, bukan hanya substansi yang diutamakan, cara mengkritiknya pun harus dipertimbangkan. Untuk menyampaikan substansi 


“Tuan belum bijaksana”, Nashrudin tidak mengatakannya demikian, melainkan dengan adab yang halus dan tidak langsung, seperti kalimat di atas, 

“Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”
 

Ibrah selanjutnya, ucapan Nasruddin, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukumlah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan”, merupakan ungkapan yang mengandung makna mendalam, menghimpun satu intisari penting dalam Islam.
 

Ungkapan ini bukanlah bermakna bahwa hukum boleh direkayasa untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu, melainkan bahwa hukum tidak lain diperuntukkan bagi kebaikan dan maslahat manusia. Itulah sebabnya, sebelum segala sesuatunya, hendaklah seorang penegak hukum dan semisalnya, terutama para muballigh, asatidz, guru, dan lain-lain, mengetahui hakikat manusia dan kemanusiaan itu sendiri, agar tidak salah, terutama, dalam menyikapi dan memperlakukan manusia.
 

Mengenai hakikat ini, Habib Ali Al-Jufri, dalam satu makalahnya yang berjudul Al-Huriyyah fi al-Manzhur al-Islamy bayn an-Nisbiyyah wa al-Ithlaq, pada  harian Al-Mishr Al-Yaum, edisi Senin, 6 Ramadhan 1428 H/17 September 2007 M, mengutip firman Allah SWT, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’
 

Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’
 

Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’.” -- QS Al-Baqarah (2): 30.
 
Setelah itu beliau menjelaskan, “Perhatikanlah ayat yang menjelaskan ihwal dijadikannya manusia sebagai khalifah di bumi dan ketakutan para malaikat terhadap manusia di atas muka bumi yang akan menyebabkan terjadinya kerusakan dan pertumpahan darah.
 

Dengan memperhatikan ayat ini, akan dapat diketahui hikmah dari dipilihnya manusia sebagai khalifah dari awal mula Allah berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’.”
 

Makna firman Allah ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui’ tidaklah menafikan terhadap pemahaman para malaikat bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi ini. Melainkan sebagai penetapan terhadap suatu hakikat yang sangat berharga dan penting, yaitu bahwa keberadaan manusia dan kekhilafahannya di bumi, bukanlah bumi itu sendiri yang menjadi maksud dan tujuannya, akan tetapi yang menjadi tujuannya adalah justru manusia.
 

Bila yang dituju dan yang dimaksud oleh Allah adalah bumi, pastilah Allah akan memilih hamba-hamba-Nya yang akan memakmurkan bumi dengan sebaik-baiknya dan tidak berbuat kerusakan atau berusaha merusaknya. Memakmurkan bumi bukanlah tujuan hakiki, melainkan sebagai perantara untuk mencapai tujuan, yakni terwujudnya penghambaan dengan sebenar-benarnya dari manusia kepada Allah SWT.
 

Itulah sebabnya, Allah SWT tidak mencegah adanya berbagai bentuk dan beraneka macam rupa perbuatan dalam mengisi bumi dari orang-orang yang menentang perintah-Nya, bahkan dari orang-orang yang mengingkari sama sekali terhadap adanya Allah SAW. Karena orang-orang yang mengingkari terhadap wujud Allah sekalipun tidak lain adalah pemegang gambaran khilafah dari Allah SWT. Akan tetapi, hakikat khilafah itu sendiri tercegah dari mereka. Dan bentuk tercegahnya hakikat khilafah itu dari mereka yaitu tercegahnya tujuan yang ada di balik gambaran khilafah tersebut, yakni memakmurkan bumi dengan cara yang sesuai dengan tuntutan kehendak Sang Pencipta langit dan bumi, petunjuk-petunjuk-Nya, dan juga segala perintah-Nya.”
 

Setelah memahami secara singkat perihal hakikat penciptaan manusia sebagai khalifah di atas muka bumi, dapatlah kita menyimpulkan bahwa keberhasilan lahiriah bukanlah tujuan utama bagi manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Tujuan utamanya adalah terwujudnya penghambaan yang sebenar-benarnya kepada Allah SWT.
 

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, dalam kitabnya, Risalah al-Mu`awnah wa al-Muzhaharah wa al-Mu’azarah li al-Raghibin min al-Mu’minin fi Suluk Thariq al-Akhirah, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan pertama 1431 H/2010 M, halaman 21, menukil sebuah hadits Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Manusia itu ada empat golongan: Seseorang yang dikaruniai Allah ilmu dan harta dan orang itu menggunakan hartanya dengan ilmunya. Kemudian seseorang yang lain berkata, ‘Bila saja Allah mengaruniaku seperti yang dikaruniakan kepada orang itu, niscaya aku akan berbuat seperti apa yang ia perbuat.’ Maka kedua orang tersebut sama dalam hal pahala. Dan seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah SWT namun tidak dikaruniai ilmu lalu orang tersebut berbuat keburukan dengan hartanya karena kebodohannya. Kemudian seseorang yang lain berkata, ‘Bila saja Allah mengaruniaku seperti yang dikaruniakan kepada orang itu, niscaya aku akan berbuat seperti apa yang ia perbuat. Maka kedua orang tersebut sama dalam hal dosanya’.”
 

Hadits ini dengan jelas menegaskan, seseorang dengan niatnya yang tulus karena Allah SWT dalam suatu bentuk ibadah, meskipun ia belum dan bahkan tidak melakukannya, yang pada hakikatnya adalah ridha dengan takdir Allah SWT, niscaya akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berniat dan juga melakukannya, dan demikian pula sebaliknya. Karena, terlaksananya niat dalam wujud perbuatan, semuanya tidak lain adalah semata-mata karunia dan pemberian Allah, sama sekali bukan wilayah kemampuan manusia. Yang dituntut dari manusia hanyalah mengarahkan kehendaknya kepada apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam sebuah proses yang disebut sunatullah. Adapun hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
 

Setelah memahami hakikat-hakikat di atas, dapatlah dimengerti bahwa pengandaian sang hakim, “Seandainya saja setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ...” bukanlah pemikiran yang bijak. Karena, bahkan, sesungguhnya Allah pun tidak menghendaki semua makhluk-Nya taat dan patuh kepada-Nya. Kebijaksanaan yang sesungguhnya adalah di saat seorang hamba mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang taat kepada Tuhannya sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya sebagaimana dibawa dan dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, baik dalam muamalahnya terhadap Tuhannya, dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Itulah inti perkataan Nasruddin di atas.
 

Wallahu a`lam bishshawab. 
  
Sumber : http://majalah-alkisah.com/index.php/humor-sufi/960-qmemilih-kebijaksanaan

Saturday, 28 December 2013

Pindah Rumah

Seorang pencuri memasuki rumah Nashrudin dan membawa hampir semua harta benda sang mullah ke rumahnya.
 

Nashrudin melihat semua kejadian itu dari ujung jalan.
 

Beberapa menit setelah itu, ia mengambil selimut, pergi ke rumah si pencuri, mendahuluinya pulang.
 

Ketika sampai di rumah si pencuri, Nashrudin berbaring, pura-pura tidur di rumah si pencuri itu.
 

“Siapa kamu, dan apa yang kamu lakukan di sini?” tanya si pencuri terkejut bercampur heran karena ada orang yang tak dikenalnya.
 

“Lho, bukannya kita sedang pindah rumah?”
 

Salah satu ibrah yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah memberikan pelajaran kepada seseorang dengan membuatnya mengalaminya sendiri. Atau, dengan bahasa gampangnya, membuat orang lain berempati.
 

Misalnya, kisah pemuda yang kepada Rasulullah SAW menyatakan keinginannya untuk berzina.
 

Alkisah, ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berbuat zina.”
Tiba-tiba, ada beberapa sahabat yang menghampiri dan menegurnya, "Diam!"
 

Kemudian Rasulullah berkata kepada para sahabat, "Dekatkan ia kepadaku."
Para sahabat menyuruh pemuda itu mendekat kepada Nabi.
Pemuda itu pun mendekat kepada beliau.
 

Setelah ia duduk, Rasulullah bertanya, "Apakah kamu rela apabila ada orang menzinai ibumu?"
 

Ia menjawab, "Tidak, demi Allah. Semoga Allah SWT menjadikan aku tebusan bagimu." Kata-kata "tebusan bagimu" dalam tradisi Arab digunakan untuk memperkuat ungkapan sumpah. 
 

Rasulullah berkata, "Orang lain pun tidak rela apabila ada orang menzinai ibunya."
 

Rasulullah bertanya lagi, "Apakah kamu rela apabila ada orang menzinai putrimu?"
 

Ia menjawab, "Tidak, demi Allah. Semoga Allah SWT menjadikan aku tebusan bagimu."
 

Dan Rasulullah berkata lagi, "Orang lain pun tidak rela apabila ada orang menzinai putrinya."
 

Kembali Rasulullah bertanya, "Apakah kamu rela apabila ada orang menzinai saudarimu?"
 

Ia menjawab, "Tidak, demi Allah. Semoga Allah SWT menjadikan aku tebusan bagimu."
 

Rasulullah berkata, "Orang lain pun tidak rela apabila ada orang menzinai saudarinya…."
 

Lalu Rasulullah meletakkan tangannya kepada pemuda tadi sambil berdoa, "Ya Allah SWT, ampunilah ia atas dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya."
 

Setelah peristiwa itu, pemuda tadi tidak berpikir untuk berbuat zina lagi. Ia bertaubat.
 

Orang yang normal tentu tidak akan rela bila ibunya, putrinya, atau saudari perempuannya, dizinai. Nah, dalam kisah di atas, Rasulullah memancing empati pemuda itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengandaikan pemuda tersebut dalam posisi anak ibu yang dizinai, ayah putri yang dizinahi, atau saudara laki-laki saudari perempuan yang dizinahi. Dan ternyata pancingan beliau berhasil, pemuda itu sadar dan kemudian tidak pernah lagi terlintas dalam pikirannya untuk berbuat zina.
 

Demikian pula yang dilakukan Nashrudin. Ia berusaha membuat si pencuri berempati kepadanya, bagaimana kalau yang dicuri adalah barang-barang si pencuri itu sendiri.
 

Empati, dalam ajaran Islam, adalah ajaran yang sangat nyata. Dalam sebuah hadits  dikatakan, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota badan merintih kesakitan, sekujur badan akan merasakan panas dan demam.” (HR Muslim).
 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dalam kitab At-Targhib juz II/217-218, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur nyenyak dan kenyang di malam hari sementara tetangganya kelaparan padahal ia mengetahui hal itu."
 

Alangkah indahnya kehidupan ini bila umat Islam menerapkan ajaran ini. Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dan rahmat yang hakiki adalah kasih sayang yang terdalam terhadap semua makhluk Allah SWT, yang karena itu Nabi SAW diutus ke muka bumi.
 

Allah SWT berfirman, "Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Mu'minun: 107).
 
Selain itu kasih sayang terhadap makhluk merupakan syarat utama untuk mendapatkan kasih sayang Sang Pemilik segala kasih sayang. Nabi SAW bersabda, "Sayangilah makhluk yang di bumi, maka Dzat yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR Imam Thabrani).
 

“Barang siapa tidak menyayangi orang lain,  Allah tidak akan menyayanginya.” (HR Imam Thabrani).
 

"Sifat penyayang tidak akan dicabut kecuali dari orang-orang yang celaka.” (HR Bukhari).
 

Kasih sayang seseorang merupakan barometer keimanannya kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Kalian tidak akan beriman sehingga kalian menyayangi."
 

Bahkan empati yang diajarkan Islam, cakupannya lebih luas. Tidak hanya kepada sesama muslim.
Para sahabat pun bertanya, "Wahai Rasulullah, secara keseluruhan kami ini penyayang."
 

Beliau menjawab, “Kasih sayang bukan kepada teman saja, tetapi kepada manusia seluruhnya.” (HR Imam Thabrani).
 

Dari hadits itu jelas, Islam mengajarkan agar kita berempati kepada orang lain. Dan empati dalam hal ini adalah terhadap sesama manusia. Tidak pandang suku, ras, bangsa, atau bahkan agama.
 

Semoga Allah menjadikan kita ke dalam golongan umat Nabi SAW yang hatinya dipenuhi dengan kasih sayang. Amin....
 

Sumber : http://majalah-alkisah.com/index.php/humor-sufi?start=1