Monday, 4 August 2008

Landasan Profetik Pendidikan Islam

Islam sebagai agama menempatkan ilmu pengetahuan pada status yang istimewa. Allah Swt akan meningkatkan derajat mereka yang beriman dan berilmu (Q.s. 58:11). Secara historis Islam telah mampu menciptakan manusia berperadaban yang bercirikan humanis-teologis dan humanis-intelektual, dalam waktu kurang dari seperempat abad. Hal demikian bisa terjadi karena disemangati wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw, berupa perintah membaca, ‘Iqra’ (Q.s. [96]: 1-5).

Iqra bisa berarti membaca atau mengkaji dalam arti yang luas. Dalam surat yang sama, pada ayat berikutnya ditegaskan bahwa dengan pena (al-qalam) Allah mengajar manusia mengenai bagaimana dan apa yang belum diketahuinya. Ayat ini menunjukkan arti penting membaca sebagai aktivitas intelektual; dan menulis yang dilambangkan dengan al-qalam sebagai proses belajar mengajar dalam arti luas.


Kata al-qalam adalah simbol transformasi ilmu pengetahuan, nilai dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kata ini merupakan simbol abadi sejak manusia mengenal baca-tulis hingga dewasa ini. Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran penting tradisi tulis–menulis yang dilambangkan dengan al-qalam.

Pendidikan Islam, menurut Majid Irsan al Kailani (1985: 38-66) — guru besar Umm al-Qura University, Mekkah— adalah seperti yang telah diungkapkan dalam surat al-Baqarah: 129 & 151; Ali Imran: 164; dan al-Jumu‘ah: 62. Ayat-ayat tersebut menetapkan 4 sasaran pokok pendidikan Islam: 1) Tilawah, yang menunjukkan aspek akidah. Pemeliharaan aspek akidah ini dapat mengantarkan manusia pada sikap dan tujuan hidup yang jelas dan dijauhkan dari pandangan tahayul dan khurafat yang tidak produktif dan irasional. 2) Tazkiyah, yaitu pembersihan dan pengendalian perilaku dengan mengarahkan pada pola hidup positip-produktif (meliputi ruhiah, aqliah, dan jismiyah) yang harus mengimbas pada pendidikan. 3) Ta‘lim, yakni mengajarkan dan membekali ilmu pengetahuan yang Islami melalui studi kritis terhadap pesan-pesan yang terkandung dalam al-Qur’an. 4) Hikmah, semakna dengan al-‘ibrah (teladan), al-itqan (teliti), dan al-hulul al-mulaimah (solusi yang tepat).

Konsep Pendidikan Islam
Proses pendidikan didesain dapat mengantarkan peserta didik mempunyai sikap akhlakul karimah, mampu membedakan yang benar dan salah, serta punya keterampilan memilah dan memilih sesuatu yang bermanfaat atau sebaliknya, merugikan. Rakhmat (1991:117-119) menguraikan bahwa tugas Nabi Muhammad saw dalam hal pendidikan dapat dilihat dari ayat-ayat (Q.s. [7]: 157; [3]: 164; [2]: 129; [62]: 2).

Ayat pertama menjelaskan tentang amar makruf nahi munkar (tazkiyah), halal-haram (ta‘lim), meringankan beban penderitaan dan melepaskan umat dari belenggu (ishlah). Dari ayat kedua ada tilawah (membacakan ayat-ayat Allah), tazkiyah (menyucikan diri mereka), dan ta‘lim (mengajarkan kitab dan hikmah). Keseluruhan konsep tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Pendidikan dalam Islam berusaha menumbuhkembangkan potensi peserta didik agar dalam sikap hidup, tindakan dan pendekatannya terhadap ilmu pengetahuan diwarnai oleh nilai etik religius. Manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi (Q.s. [2]: 31) dituntut perannya untuk dapat mengemban misi rahmatan lil‘alamin, yaitu terciptanya sebuah kehidupan damai di bumi dirahmati di langit, yaitu kehidupan yang religius, adil, makmur, harmoni di antara penduduk bumi. Bila pendidikan diartikan sebagai upaya untuk mengubah orang dengan pengetahuan tentang sikap dan perilakunya dengan kerangka nilai profetik, maka akan diupayakan proses pendidikan sebagai berikut.

Pertama, menjadikan Rasulullah sebagai patron model pendidik (Q.s. [33]: 21, [68]: 4). Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus sebagai pendidik.” (HR Ibnu Majah); dan “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kebaikan akhlak.” (HR. Bukhari, Hakim, dan Baihaqi).

Kedua, pendidikan dalam Islam diarahkan untuk menumbuhkembangkan iman dan ilmu (Q.s. [58]: 11), sehingga melahirkan amal saleh (Q.s. [67]: 2).

Ketiga, pendidikan dalam Islam berparadigma transendensi dan objektifikasi sekaligus, yaitu sebuah upaya pendidikan yang mengantarkan kepada penumbuhan kearifan, kasih sayang, dan egalitarian sebagai hasil duplikasi sifat-sifat Tuhannya. Hal ini sekaligus juga, mempunyai kepedulian ilmiah dan tangggungjawab untuk memakmurkan bumi dalam rangka memenuhi dan mengatasi misi hidup kemanusiaan.

Keempat, pendidikan Islam pada prosesnya didesain untuk membentuk peserta didik menjadi hamba yang mampu mengaktualisasikan diri mencapai derajat takwa, hingga mampu meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. (Q.s. [2]: 201; [28]: 77).

Keseimbangan dan Keutuhan

Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai Rab’. Kata ini berasal dari raba–yarbu-tarbiyah, yang mengandung makna: education (pendidikan), upbringing (asuhan), teaching (pengajaran), instruction (perintah), breeding (pemeliharaan), raising (peningkatan), creating (menciptakan), belonging (memiliki), commanding (menguasai), guarding (memberi petunjuk), growing (menumbuhkan) dan innovating (mengembangkan). Seluruh pengertian tersebut apabila dicermati lebih lanjut, maka secara etimologis kata Rab lebih menunjukan kepada istilah proses pendidikan.

Kongres dunia II pada tahun 1980 tentang konsep dan kurikulum pendidikan Islam merumuskan bahwa pendidikan Islam adalah sebagai usaha untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan pribadi manusia secara menyeluruh: akal pikiran, kecerdasan, perasaan dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia: spiritual dan intelektual; individu dan kelompok; dan mendorong seluruh aspek tersebut ke arah pencapaian kesempurnaan hidup. (Fazlur Rahman, 1985:16).
Pendidikan dalam Islam memegang peran sentral karena memproses manusia untuk memiliki equilibrium antara dar al-akhirah dengan dar al-dunya; keseimbangan religius-spirit dengan profan-materi. Secara edukasi Nabi Muhammad saw mengajak pengikutnya untuk meninggalkan kegelapan spiritual, mental dan intelektual. Gerakan pendidikan yang diusung Nabi mempunyai mainstream liberasi yang kuat. Hal ini, dapat dilihat dari doa Nabi yang diajarkan kepada para pengikutnya: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih, mental malas, sifat penakut, watak kikir, terlilit hutang dan penindasan orang/rezim”. (HR. Muslim).

Nabi Muhammad saw adalah guru yang sempurna, pada dirinya ada teladan yang utama (Q.s. [68]: 40; [33]: 21). Di masjid para sahabat mengerumuni Nabi untuk mendengar kuliah dan petuahnya. Dengan bahasa yang mudah dipahami Nabi menjelaskan segala teori kehidupan. Nabi memerintahkan kepada muridnya yang hadir untuk menyampaikan materi yang telah diterima kepada yang tidak hadir meskipun hanya satu ayat, ballighu ‘anni walau ayatan. Betapa tinggi tradisi belajar-mengajar di masa awal Islam, hingga Ali ra berkata; “Ana abdun man allamani harfan” (Saya adalah hamba sahaya seseorang yang mengajarkanku satu huruf ilmu).
Pendidikan dalam Islam bercirikan keutuhan, bahwa semua ilmu pengetahuan secara ontologi bersumber dari zat yang serba maha tahu, yaitu Allah al-‘Alim Rabbul al- ‘Alamin. Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa tujuan pendidikan dalam Islam setidaknya mengandung dua hal: 1) Mengantarkan kesempurnaan manusia yang berujung pada taqarrub ilallah; dan 2) mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. (Sulaiman, 1964:16).

Sedangkan dari sisi fungsi, pendidikan Islam setidaknya meliputi tiga hal berikut ini: 1) Menumbuhkembangkan (kapasitas fisik dan psikis) peserta didik ketingkat yang normatif lebih baik; 2) Melestarikan ajaran Islam yang meliputi bidang ibadah, muamalah, munakahah, dan jinayah; 3) Melestarikan kebudayaan dan peradaban.

Dalam pendidikan Islam tidak dikenal sistem pendidikan dikhotomi, karena akan menimbulkan dampak sebagai berikut: 1) Munculnya ambivalensi orientasi pendidikan Islam; 2) Kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dan ajaran Islam yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum (Kuntowijoyo, 1991: 352); 3) Disintregasi sistem pendidikan Islam; 4) Inferioritas pengelola lembaga pendidikan Islam, karena barometer kualitas pendidikan tidak lepas dari ukuran kemajuan sistem pendidikan Barat sebagai tolak ukurnya.

Ziaudin Sardar (1986:75) mengajukan solusi untuk mengatasi dualisme sistem pendidikan Islam, yaitu: 1) Mengembangkan epistemologi keilmuan agar lebih fungsional untuk merespons problematika kehidupan kekinian; 2) Mengembangkan kerangka teori dan sain-teknologi yang bercirikan Islam; dan 3) Mengembangkan teori sistem pendidikan integralistik yang mengacu pada konsep dan khasanah ajaran Islam.

Penulis adalah Mahasiswa S3 UIN Malang, Jawa Timur.

Sunday, 3 August 2008

Multiple Intelegence

Konsep intelegensi yang hingga sekarang ini dikenal adalah berasal dari Alfers Binet. Kecerdasan merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah atau membuat produk yang dihargai dilingkungan kebudayaan. Dengan demikian ukuran kecerdasan akan berfariasi antara lingkungan kebudayaan satu dengan lainnya. Sebagai contoh orang yang hidup di daerah kering akan menjadi intelegen karena mamapu berjuang untuk tetap hidup.

Howard Gardner (1983) dalam terorinya tentang multiple intelegence atau kecerdasan majmuk menjelaskan cakupan potensi manusia. Teori ini telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi dunia pendidikan, yang sebelumnya lebih banyak memberikan fokus perhatian hanya pada sisi language dan mathematical intelligence. Menurut beliau IQ bukan satu-satunya alat ukur untuk mengetahui kemampuan seseorang, tapi disana ada kecerdasan-kecerdasan lain yang juga amat penting, yaitu: linguistik, logika-matematika, visual-spasial, musikal, fisik kinestesik, interpersonal (sosial), intrapersonal, dan naturalis.

Bagi para pendidik ide multiple intelligence ini menjadi inspirasi dalam pengkayaan kurikulum pendidikan sekolah, terutama dalam memperkaya metode penyampaikan materi pelajaran dengan memanfaatkan ke-tujuh potensi kecerdasan manusia ini.
Delapan kecerdasan tersebut adalah:
1. Kecerdasan linguistik (Linguistic Intelegence), yaitu kecerdasan yang diungkapkan dalam bentuk kemampuan membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata. Penulis, wartawan, sastrawan, orator, dan komedian merupakan contoh-contoh yang memiliki kecerdasan linguistik.

2. Kecerdasan logika-matematika (logical_matematical .Intelegence), yaitu kecerdasan yang diungkapkan dalam bentuk kemampuan bernalar (reasoning) dan menghitung, memikirkan sesuatu dengan cara logis dan sistematis. Kemampuan ini banyak dikembangkan oleh para insinyur, ilmuan, ekonom, akuntan dan detektif.

3. Kecerdasan visual-spasial (visual-Spatical Intelegence), yaitu intelegensi yang diungkapkan dalam bentuk kemampuan untuk memvisualisasikan bentuk akhir dari sesuatu. Membayangkan sesuatu dalam mata pikiran. Arsitek, seniman, perencana strategik, fotografer, pemahat, pelaut adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan visual-spasial.

4. Kecerdasan musikal (Musical Intelegence), yaitu kecerdasan yang diungkapkan dalam bentuk kemampuan untuk menciptakan atau membuat komposisi musik. Menjaga irama. Setiap orang memiliki kecerdasan musikal dasar yang baik dan dapat mengembangkannya. Kecerdasan ini dimiliki oleh komposer, musikus, dan ahli rekaman.

5. Kecerdasan fisik-kinestetika (Body-Kinestetic Intelegce), yaitu kecerdasan yang diungkapkan dalam bentuk kemampuan menggunakan keterampilan fisik untuk memecahkan masalah, menciptakan produk, atau menyampaikan gagasan dan emosi. Kemampuan ini ditampilkan oleh atlit, penari dan aktor, ataupun mereka yang bekerja di bidang konstruksi. Banyak orang yang berbakat secara fisik dan terampil menggunakan tanga tidak menyadari bahwa mereka tidak menunjukkan bentuk kecerdasan yang tinggi, dan sama nilainya dengan kecerdasan lainnya.

6. Kecerdasan Interpersonal (sosial) (Interpersonal (social) Intelegence), yaitu kecerdasan yang diungkapkan dalam bnetuk kemmpuan bekerja secara efektif dengan orang lain berhubungan dengan orang lain dan menunjukkan empati dan pemahaman, memperhatikan motifasi dan tujuan. Kecerdasan ini pentinig untuk dimiliki para guru, fasilitator, terapis, politikus, pemimpin agama dan salesman.

7. Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelegence) , yaitu kecerdasan yang diungkapkan dalam bentuk kemampuan menganalisis diri dan refleksi diri, mampu berkontemplasi dan menilai kemampuan seseorang, membuat perencanaan dan tujuan, dan mengetahui diri sendiri. Kecerdasan ini dapat dipergunakan untuk mempelajari kesuksesan dan kegagalan sebagai panduan untuk kebaikan pada masa mendatang. Filosof, konselor, dan orang-orang yang mencapai puncak prestasi tertinggi adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan ini.

8. Kecerdasan Naturalis (Naturalis Intelegence), yaitu kecerdasan yang diungkapkan dalam bentuk kemampuan mengenal flora dan fauna, hidup selaras dengan alam dan memanfaatkannaya secara produktif. Petani, pakar biologi, pakar botani, dan lingkungan hidup adalah orang-orang yang mempunyai kecerdasan ini.

Seperti apa yang telah tersebut di muka, pendidikan di sekolah pada umumnya mengajarkan materi yang berkaitan dengan dua kecerdasan. Ini karena tes IQ yang diterapkan selama ini berupa huruf dan angka. Demikian pul dengan hasil tes IQ sering digunakan untuk memprediksi keberhasilan siswa di sekolah, karena materi yang diajarkan dan cara mengajar anak di sekolah tergantung pada kedua jenis kecerdasan tersebut, yakni bahasa dan logika-matematika.


Wednesday, 30 July 2008

Hikmah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad Saw

Modal inti dalam Islam sesuai yang diajarkan Nabi Muhammad SAW., hanya ada tiga, iman, ilmu, dan akhlak. Dalam Islam tidak ada istilah Robin Hood, yang mencuri harta orang kaya dan membagi-bagikannya kepada rakyat miskin. Mencuri tetap saja dosa besar walau dengan dalih apapun, termasuk di dalamnya, korupsi, nepotisme, sogok menyogok seperti yang sekarang ini kerab dilakukan para pejabat bangsa kita ini.

Demikian dikatakan, Buya H. Masoed Abidin kepada Singgalang kemarin (30/7) saat ditanyakan hikmah dari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW., yang selalu diperingati umat Islam setiap 27 Rajjab.

Diulasnya, bangsa ini tidak mungkin maju tanpa tiga kekuatan yang diajarkan, iman (religi), ilmu (iptek) dan akhlak (kultur, adat perilaku). Hal ini substansial dalam pembinaan karakter bangsa. Penetapan pimpinan bangsa dari tingkat bawah ke atas. “Tiga kekuatan itu jadi penentu,” katanya.

Pasca modernisme di era kesejagatan perlu triple basic (knowledge, religi dan culture). Tiga kekuatan inti untuk bertanding dan bersaing di era global yang borderless.

“Hikmah Isra’ mengakui kekuasaan Allah. Di sisi Allah tidak ada yang mustahil. Maka bermohonlah padaNYA, Allah mampu menghampirkan yang jauh, begitu sebaliknya. Allah dekat sekali dengan hambanya, lebih dekat ketika mendekatinya,” ujarnya.

Mi’raj ialah naik ke tempat yang mulia dengan salat. Khusyuk syarat utama. Meninggalkan salat berarti hilang tenang, hilang sabar, hilang bahagia, hilang ketentraman, hilang aman, hilang dunia, hilang akhirat, hilang semua.

“Apa lagi yang jadi milik kita? Jawabnya tidak ada,” tutur Buya.

Implementasi sekarang dari peristiwa Isra’ Mi’raj itu lebih jauh dikatakan Buya Masoed ialah perwujutannya bagi umat sekarang ini. Pemipin bangsa yang salat tidak akan tergiur korupsi. Bangsa akan makmur, adil, sejahtera, bersih dan menghargai waktu.

Konteks kekinian bahwa Isra’ Mi’raj tidak hanya input ratio saja, dua peristiwa itu mukjizat yang diberikan kepada Muhammad sebagai bukti kerasulannya.

“Agar tak ada lagi orang mendakwakan diri jadi rasul. Agar tidak ada lagi manusia yang diperbodoh oleh kepalsuan,” lanjutnya.

Menurutnya banyak sekali hikmah di balik peristiwa Islam itu. Tidak bisa sesorang akan memahaminya, jika hanya datang ke masjid mengikuti tauziyah karena peringatan Isra’ Mi’raj saja. Tidak akan timbul kesadaran dalam hati jika anggap angin lalu saja. Perlu dikaji lebih dalam oleh umat sehingga dapat dibentuk karakter bangsa yang beragama bukan hanya liberal tanpa arah.

“Salat adalah perintah pertama dalam Islam, tanpa salat tak ada artinya Islam. Salat mengajarkan pengawasan melekat antara manusia dengan Khaliknya,” tukasnya.cr06

Jika Nabi Muhammad saw Datang ke Rumahmu

Berikut ini ada sebuah puisi yang cukup bagus menurut saya. Mudah-mudahan juga menurut anda. Bukan karangan saya. Saya dulu mendapatkannya dari sebuah website, tapi entah nama websitenya apa? Saya sudah lupa. Saya hanya menerjemahkannya. Bacalah dengan seksama dan cobalah untuk merenung sejenak. Semoga bermanfaat.

Jika Nabi Muhammad Datang ke Rumahmu


Jika Nabi Muhammad datang ke rumahmu
Untuk meluangkan waktu sehari dua hari bersamamu
Tanpa kabar apa-apa sebelumnya
Apakah yang akan kau lakukan untuknya?

Akankah kau sembunyikan buku duniamu?
Lalu kau keluarkan dengan cepat kitab hadits di rak buku?
Atau akankah kau sembunyikan majalah-majalahmu
dan kau hiasi mejamu dengan Quran yang telah berdebu?
Akankah kau masih melihat film X di TV
atau dengan cepat kau matikan sebelum dilihat Nabi?
Maukah kau mengajak Nabi berkunjung ke tempat yang biasa kau datangi?
Ataukah dengan cepat rencanamu kau ganti?
Akankah kau bahagia jika Nabi memperpanjang kunjungannya?
Atau kau malah tersiksa karena banyak yang harus kau sembunyikan darinya?

Jika Nabi Muhammad tiba-tiba ingin menyaksikan,
Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan yang sehari-hari biasa kaulakukan?
Akankah kau berkata-kata seperti apa yang sehari-hari biasa kau katakan?
Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu
seperti halnya jika Nabi tidak ke rumahmu?

Sangatlah menarik untuk tahu
Apa yang akan kau lakukan
Jika Nabi Muhammad datang mengetuk pintu rumahmu

Thursday, 24 July 2008

Membangun Kepercayaan diri

Pede (kata bahasa gaul harian kita. Kita? Loe g ikut kali…) atau Percaya Diri, menjadi hal yang sulit bagi banyak orang. Ada orang yang merasa kehilangan rasa kepercayaan diri di hampir keseluruhan wilayah hidupnya. Bisa karena krisis diri, depresi, hilang kendali, merasa tak berdaya menatap masa depan, de el el. Ada orang yang merasa belum pede dengan apa yang dilakukan. Ada juga orang yang kurang percaya diri ketika menghadapi keadaan atau situasi tertentu, seorang cowok selalu salah tingkah di depan cewek (kayk spa zz? Ayo ngaku..)

Bagi sebagian kita yang punya masalah seputar rendahnya kepercayaan-diri atau merasa telah kehilangan kepercayaan diri, mungkin Anda bisa menjadikan langkah-langkah berikut ini sebagai proses latihan:


1.Menciptakan definisi diri positif

Steve Chandler mengatakan, “Cara terbaik untuk mengubah sistem keyakinanmu adalah mengubah definisi dirimu.” Bagaimana menciptkan definisi diri positif. Di antara cara yang bisa kita lakukan adalah:

o Membuat kesimpulan yang positif tentang diri sendiri / membuat opini yang positif tentang diri sendiri. Positif di sini artinya yang bisa mendorong atau yang bisa membangun, bukan yang merusak atau yang menghancurkan.

o Belajar melihat bagian-bagian positif / kelebihan / kekuatan yang kita miliki

o Membuka dialog dengan diri sendiri tentang hal-hal positif yang bisa kita lakukan, dari mulai yang paling kecil dan dari mulai yang bisa kita lakukan hari ini.

Selain itu, yang perlu dilakukan adalah menghentikan opini diri negatif yang muncul, seperti misalnya saya tidak punya kelebihan apa-apa, hidup saya tidak berharga, saya hanya beban masyarakat, dan seterusnya. Setelah kita menghentikan, tugas kita adalah menggantinya dengan yang positif, konstruktif dan motivatif. Ini hanya syarat awal dan tidak cukup untuk membangun kepercayaan diri.

2.Memperjuangkan keinginan yang positif

Selanjutnya adalah merumuskan program / agenda perbaikan diri. Ini bisa berbentuk misalnya memiliki target baru yang hendak kita wujudkan atau merumuskan langkah-langkah positif yang hendak kita lakukan. Entah itu besar atau kecil, intinya harus ada perubahan atau peningkatan ke arah yang lebih positif. Semakin banyak hal-hal positif (target, tujuan atau keinginan) yang sanggup kita wujudkan, semakin kuatlah pede kita. Kita perlu ingat bahwa pada akhirnya kita hanya akan menjadi lebih baik dengan cara melakukan sesuatu yang baik buat kita. Titik. Tidak ada yang bisa mengganti prinsip ini.

3.Mengatasi masalah secara positif

Pede juga bisa diperkuat dengan cara memberikan bukti kepada diri sendiri bahwa kita ternyata berhasil mengatasi masalah yang menimpa kita. Semakin banyak masalah yang sanggup kita selesaikan, semakin kuatlah pede. Lama kelamaan kita menjadi orang yang tidak mudah minder ketika menghadapi masalah. Karena itu ada yang mengingatkan, begitu kita sudah terbiasa menggunakan jurus pasrah atau kalah, ini nanti akan menjadi kebiasaan yang membuat kita seringkali bermasalah.

4.Memiliki dasar keputusan yang positif.

Kalau dibaca dari praktek hidup secara keseluruhan, memang tidak ada orang yang selalu yakin atas kemampuannya dalam menghadapi masalah atau dalam mewujudkan keinginan. Orang yang sekelas Mahatma Gandhi saja sempat goyah ketika tiba-tiba realitas berubah secara tak terduga-duga. Tapi, Gandhi punya cara yang bisa kita tiru: “Ketika saya putus asa maka saya selalu ingat bahwa sepanjang sejarah, jalan yang ditempuh dengan kebenaran dan cinta selalu menang. Ada beberapa tirani dan pembunuhan yang sepintas sepertinya menang tetapi akhirnya kalah. Pikirkan ucapan saya ini, SELALU”. Artinya, kepercayaan Gandhi tumbuh lagi setelah mengingat bahwa langkahnya sudah dilandasi oleh prinsip-prinsip yang benar.:D

Sunday, 20 July 2008

Landasan & Aliran Pendidikan

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Yang sudah barang tentu dalam menjalankan kelanjutan pendidikan tersebut harus ada alat sebagai pegangan yang salah satunya adalah adanya kurikulum.

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.

Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu:

(1) Filosofis;
(2) Psikologis;
(3) Sosial-budaya;
(4) Ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas keempat landasan tersebut.

1. Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti : idealisme, realisme, materialisme, pragmatisme, eksistensialisme, progresivisme, perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, dan rekonstruktivisme. Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran – aliran filsafat tertentu, sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.
Berikut adalah sedikit uraiannya:

(a) Filsafat Pendidikan Idealisme
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali

(b) Filsafat Pendidikan Realisme
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

(c) Filsafat Pendidikan Materialisme
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach

(d) Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.

(e) Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich

(f) Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff

(g) Filsafat Pendidikan Esensialisme
Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda.
Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.

(h) Filsafat Pendidikan Perenialisme
Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.

(i) Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran pendidikan rekonstruksionisme Merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil.

Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg

Fokus dalam aliran pendidikan Rekonstruksionisme adalah berikut ini.
a. Promosi pemakaian problem solving tetapi tidak harus dirangkaikan dengan penyelesaian problema sosial yang signifikan.

b. Mengkritik pola life-adjustment (perbaikan tambal-sulam) para Progresivist
c. Pendidikan perlu berfikir tentang tujuan-tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Untuk itu pendekatan utopia pun menjadi penting guna menstimuli pemikiran tentang dunia masa depan yang perlu diciptakan.
d. Pesimis terhadap pendekatan akademis, tetapi lebih fokus pada penciptaan agen perubahan melalui partisipasi langsung dalam unsur-unsur kehidupan.
e. Pendidikan berdasar fakta bahwa belajar terbaik bagi manusia adalah terjadi dalam aktivitas hidup yang nyata bersama sesamanya.
f. Learn by doing! (Belajar sambil bertindak).

2. Landasan Psikologis

Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu :

(1) psikologi perkembangan dan
(2) psikologi belajar.

Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum.

Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.

3. Landasan Sosial-Budaya

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.

Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.

Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.

Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.

Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.

4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang, Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.

Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian..

Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

Masing-masing aliran pendidikan memiliki kekurangan dan kelebihan, sehingga para pelaku pendidikan harus mempelajari semua aliran dan mengkolaborasikannya sehingga akan diperoleh suatu sistem pendidikan atau pola pembelajaran yang baik.


Sumber Bacaan

1. Admin, 2006. Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan, Situs informasi Indonesia Serba serbi Dunia Pendidikan, http://edu-articel.com/
2. Hidayanto, D.N, 2000. Diktat Landasan Pendidikan, Untuk Mahasiswa, Guru dan Praktisi Pendidikan, Forum Komunikasi Ilmiah FKIP Universitas Mulawarman, Samarinda
3. Pasti, Y. Priyono, 2007, Menuju Pendidikan Demokratis Humanistik, http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/23/Didaktika/1916660.htm
4. Gunarto, H, 2004. Mengusung Pendidikan Humanistik,
http://www.freelists.org/archives/ppi/05-2004/msg00284.html
O’neil, F. William, 2001. Ideoligi-Ideologi Pendidikan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
5. Tjaya, Thomas Hidya, 2004. Mencari Orientasi Pendidikan,
cetak/0402/04/Bentara/824931.htm
6. Akhmad Sudrajat, 2006, Landasan Pendidikan,
http://www.akhmadsudrajat.wordpress.com/
Filosofis Pendidikan http://pakguruonline.pendidikan.n

Friday, 18 July 2008

Mau Menulis Apa?

Setelah punya blog, mungkin Ada yang bingung mau nulis apa? G ada bahan untuk ditulis. Belum lagi gimana cara menulisnya. Bagi orang yang telah akrab dengan dunia tulis menulis mungkin hal ini tidak akan terjadi. Tapi, bagi orang-orang (termasuk saya) yang belum pernah terbiasa atau malahan belum pernah menulis artikel, cerpen, puisi, ataupun buku, dan lain sebagainya, hal ini pasti akan dijumpai. Lalu gimana donk???

Mau tau cara mudah untuk mendapatkan ide untuk nulis? Gimana mau tidak? Udah jangan pikir panjang! Ayo ikut!

Coba sekarang Sobat mandi lalu berdandanlah yang rapi, sisiran yang rapi n jangan lupa pakai parfum yang wangi juga zzz (biar g bau, he heee). Gimana sudah rapi belum? Oke kalu sudah, pergilah jalan-jalan, itung2 refreshing gitu lho… bisa ke pantai, alun-alun, lapangan, dan tempat lainnya. Oh iya ada yang terlupakan, bawa buku kecil atua kertas sama pena zzz, tapi kalau Sobat bawa HP g usah, ga pa2 kok.

Sekarang siap meluncur....

30 menit kemudian…..

Sudah sampai mana? Gimana sudah dapat ide untuk menulis belum? Tentunya sudah ada gambaran kan? Tadi waktu perjalanan Sobat jumpai tidak di per4an lampu merah anak kecil yang ngamen, dagang korang, dagang minuman, atau mengemis. Atau kalu kebetulan tidak Sobat jumpai, bisa Sobat lihat keadaan transportasi, perdangangan, tempat-tempat pariwisata, de el el yang ada di kota Sobat.

Asik nie dah nyampai….

Sambil menikmati pemandangan sekitar, sekarang coba buka buku yang tadi atau HP Sobat lalu mulailah menulis. Kalau tadi di jalan ada anak-anak kecil yang ngamen, jualan koran, jualan minuman, atau mengemuis. Maka dapat disimpulkan bebrapa perntanyaan:

1.Mengapa mereka harus bekerja? Bukankah seusia mereka adalah masa untuk bermain seperti anak-anak yang lainnya?
2. Mengapa mereka tidak sekolah? Padalah pendidikan merupakan hak asasi mereka?
3. Apakan ini termasuk mengekspolitasi anak?
4. Bagaiman keadaan keluarganya? Atau malahan mungkin mereka sudah tidak punya keluarga?
5. Adakan perhatian pemerintah kepada mereka atau tidak?
6. Jika ada, sejauh manakah? Sudah optimal apa belum?
7. Jika belum, apa sebabnya? Anggaran yang minim atau banyak penyahlahgunaan?
8. Prospek dunia pendidikan Indonesia di masa depan?
9. Apa harapan dan kritikan untuk membanggun masa depan yang lebih maju?
10. De el el

Gimana ternyata mudah kan mendapat inpirasi untuk menulis? Dan ternyata juga banyak hal-hal yang bisa kita tuangkan dalam tulisan. Eeeee ternyata menulis itu mudah zzzzzz

Dah cukup belum refreshingnya? Pulang yu’.. dan sore nie..

Kalau sudah samapi di rumah, sekarang siap kan menjalankan misi kedua?

Coba nyalakan komputer Sobat, kalau kebetulan tidak ada komputer, ambilah buku catatan Sobat, duduklah manis dan bukalah hasil catatan yang tadi. Siap dech untuk menulis.

Dari sepuluh poin di atas bisa dipilih salah satu atau beberapa poin lalu digabungkan, dan bisa ditulis menjadi sebuah artikel ilmiah, seperti mengapa banyak anak-anak yang tidak sekolah, apa yang penyebabnya? Apakah karena keluarga yang tidak mampu? Terus bisa dikaitkan dengan sebetulnya bagaimanakah dunia pendidikan Indonesia sehingga ada anak-anak yang tidak bisa sekolah?. De el el. Tentunya untuk menulis sebuh artikel ilmiah kita membutuhkan referensi agar apa yang kita tulis lebih berbobot dan bisa dipertanggungjawabkan, untuk ini bisa diamil dari buku, koran, majalah atau bisa cari di internet.

Atau bisa ditulis dalam bentuk cerpen, pusisi, dan novel. Khusus untuk ini tidak memakai referensi tidak apa-apa, tapi mungkin bisa juga Sobat baca untuk membelajari gaya bahasanya.

Agar tulisan kita enak dibaca, maka kata kuncinya adalah juga kita hatus banyak-banyak membaca. Dengan membaca wawsan kita menjadi luas, dan itu sanggat membantu sekali, kita bisa memgkaitakan permasalahan satu dengan permasalahan lainnya, satu pendapat dengan pendapat lainnya, dan seterusnnya. Selain itu kita juga bisa belajar gaya penulisan dari sang penulis.

Gimana menulis itu mudah kan? Kalau sudah jadi, siap dech unutk dipostingkan.

Eh Sobat, bukannya maksud untuk mengurui lho.. tapi cara ini sudah aku coba ketika nulis artikel tentang ini. Udah gicu dlu zz n go2d luck dech Sobat.