Thursday, 6 February 2014

Obat Yang Aman Dan Efektif

morinda-original
Untuk pengobatan medis pada umumnya satu macam obat untuk mengobati satu macam penyakit. Adakah Obat yang Aman dan Efektif untuk mengobati segala macam penyakit? Ada ! Jawabnya adalah Tahitian Noni Original dari Morinda. 

“Kasihan sekali bagi seseorang yang menderita sakit harus lama bertemu dengan obat yang cocok”

Kecuali ia harus lama menahan penderitaannya, ia harus kehilangan banyak uang sia-sia, juga terpaksa mengkonsumsi obat-obatan kimia dari dokter yang sudah barang tentu banyak residunya yang sangat merugikan dan berbahaya bagi tubuh, baik untuk jangka pendek apalagi jika dikonsumsi jangka panjang.
Tetapi tetap harus disadari bahwa segala penderitaan dalam hidup ini kalau kita mau merunutnya adalah akibat dari perilaku kita sendiri. Disadari ataupun tidak. Sebab hukum alam selalu penuh keseimbangan.

Banyak sekali faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan kita.

Mungkin kita kurang menjaga ibadah yang utama harus kita lakukan dalam hidup kita, menyembah dan mengabdi hanya kepada Allah SWT, itulah kuwajiban mutlak yang Allah perintahkan kepada manusia.

Atau mungkin kita kurang menjaga sikap atau perilaku kita habluminannas kita kepada sesama kita, sering menyakiti, mengecewakan, menghina, melecehkan dan lain sebagainya.

Bisa jadi kita tidak menjaga dengan baik pola makan dan pola hidup kita? Makan sembarangan yang banyak zat pengawetnya, makan tidak teratur, kurang istirahat dan kurang berolahraga ?

“Itu semua tentu bisa jadi biang keladi timbulnya suatu penyakit”

Kembali kepada pokok pembahasan tentang “Obat Aman Dan Efektif”. Daripada Anda menghabiskan banyak uang untuk mengkonsumsi obat atau produk yang tidak jelas jaminan kualitasnya, saya himbau lebih baik Anda sejak sekarang mengkonsumsi Tahitian Noni Original dari Perusahaan Morinda Bioactive. Asal yang asli ya ? Karena ada sekitar 300 lebih produk noni yang bukan dari Tahiti, tentu lain sama sekali jaminan kualitas dan hasilnya kawan !

Namun sebelum mengkonsumsinya, sebaiknya Anda mempelajari lebih dahulu tentang Tahitian Noni Original ini, bisa mampir di blog www.m-o-r-i-n-d-a.blogspot.com yang sedang saya bangun ( maaf namun belum selesai ) atau langsung di website aslinya www.tahitiannoni.com/NiniekSS

Sedikit saya sampaikan disini bahwa Produk Tahitian Noni Original adalah Produk Herbal dari Mengkudu asli dari Tahiti. Yang dikenal dengan kepulauan bebas pencemaran lingkungan karena dikelilingi oleh laut yang sangat dalam yang sangat kaya oleh mineral yang sangat dibutuhkan oleh manusia.

Buah mengkudu yang diambil untuk Tahitian Noni Original dipilih dari ‘Jenis Mengkudu terbaik dan tidak beracun’ ( karena 60 jenis dari 80 jenis yang ada dari mengkudu, diketahui adalah beracun bagi manusia ). Dan hasil produk Tahitian Noni Original merupakan hasil dari penelitian yang sangat mendalam melewati uji klinis dan berbagai uji manfaat untuk banyak penyakit yang semuanya di ujicobakan langsung kepada manusia bukan pada tikus atau kelinci seperti yang biasa dilakukan untuk riset dan penyelidikan obat.

27.000 pasien di seluruh dunia menjadi bagian orang yang beruntung karena menjadi pasien sebagai ujicoba bagi pengobatan berbagai penyakit popular di dunia ini dengan Tahitian Noni Original dari Morinda. Dan hasilnya sangat menakjubkan. Laju kesembuhan pada tiap-tiap kasus penyakit sungguh menggemirakan.

Oleh karena itu secepat kilat Produk Tahitian Noni Original sudah menyebar dimana-mana dan telah dikenal hampir di seluruh dunia bahkan di Indonesia.

Mengapa Tahitian Noni Original bisa menjadi Obat Yang aman dan Sangat Efektif ?

Sebagai penemuan terdepan saat kini, dunia kedokteran modern telah menemukan bahwa bersatunya kelebihan zat gula dengan protein didalam tubuh bisa merusak sel dimanapun ia berada. Ini yang disebut dengan AGE. Jika AGE ini ada didalam jantung maka ia bisa merusak organ penting ini sehingga akan berkurang fungsinya bahkan bisa menjadi rusak. Atau jika AGE ini berada di seputar kornea mata maka ia bisa menimbulkan kebutaan. Dan dimanapun AGE berada ia akan selalu merusak sel yang sehat disekitar dimana ia berada. Sangat mengerikan bukan ?

Kalau di masa lalu kita dikhawatirkan adanya radikal bebas sebagai pemicu timbulnya berbagai macam penyakit, maka kini AGE lebih membahayakan daripada radikal bebas, karena setiap hari manusia selalu mengkonsumsi gula dan protein dari pagi hari hingga malam hari, bisa dibayangkan bukan? Betapa rentannya AGE yang terbentuk setiap saat dalam tubuh kita !

Nah salah satu unsur yang mampu mengurai AGE ini adalah zat ‘IRIDOIT’ yang ditemukan paling banyak berada pada buah mengkudu dari Tahiti ( sekali lagi bukan mengkudu dari tempat lain ! ).

Sehingga bisa diterima akal jika Herbal Tahitian Noni Original yang sarat akan iridoit ini jika dikonsumsi, maka ia akan menjadi ‘Solusi Yang Aman dan Efektif’ bagi berbagai macam penyakit karena iridoit yang terkandung didalamnyalah yang akan mengurai AGE yang ada di dalam tubuh kita.

MAHA BESAR ALLAH yang telah menciptakan ‘Buah Mengkudu Dari Tahiti’. Dan betapa bersyukurnya kita, kepada Allah yang telah mengutus para peneliti Noni dari Tahiti dengan segala kerja kerasnya, dengan biaya yang tak sedikit, berjuta-juta dollar, hingga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

Revolusi Pengobatan Modern dengan Herbal Noni, yang dimasa lalu hanya dianggap sebagai konsumsi orang kampung, tidak berdasarkan pada penelitian, kemanfaatannya hanyalah dari mitos turun temurun dari generasi ke generasi penerusnya, anggapan ini tertepis sudah dengan Tahitian Noni Original yang sangat eksklusif kualitas dan manfaatnya bagi pengobatan kemanusiaan di seluruh dunia.

“Satu produk untuk sejuta Manfaat”

Jika Anda berminat, jangan sungkan-sungakn silahkan hubungi saya. Saya adalah IPC Resmi dari Tahitian Noni International dengan no ID : 3746098

Saya bukanlah manusia yang sempurna, tentu saya tidak akan pernah bisa menyerap ilmu tentang Tahitian Noni Original dengan sempurna pula. Namun saya insya Allah akan terus selalu berusaha menambah pemahaman akan produk ajaib yang sangat bermanfaat bagi kemanusiaan ini. Dan saya sudah melakukan, mengajak banyak orang mengkonsumsi Tahitian Noni Original, yang akhirnya alhamdulillah atas ijin Allah sembuh dengan Tahitian Noni Original dari berbagai penyakit yang dideritanya, antara lain : kanker, kista, maag, jantung, diabet, stroke, kelenjar gondok, autisme, jantung dan masih banyak lagi.

Produk Tahitian Noni Original ini, bukan saja menawarkan solusi kesehatan terbaik bagi kita, namun juga menawarkan solusi financial bagi yang mau menjalani bisnisnya. Silahkan Anda memilih sesuai dengan kebutuhan Anda. Jika Anda penasaran tentang Tahitian Noni Original dari Morinda, silahkan kunjungi blog saya yang khusus membahas Tahitian Noni Original dari Morinda, namun saya minta maaf jika masih belum lengkap karena blog ini sedang disempurnakan. Terima kasih. Klik di www.m-o-r-i-n-d-a.blogspot.com

Demikian, semoga bermanfaat.

Salam Sejahtera Selalu,
NiniekSS

Makanan Penyebab Jerawat di Wajah




Cara Tubuh Sehat - Update Artikel Lagi Mengenai Makanan Penyebab Jerawat di Wajah.  Jerawat $angat umum terutama di kalangan anak muda dan $alah $atu cara terbaik untuk mencegah jerawat adalah dengan menghindari makanan yang menyebabkan jerawat. Hal ini penting untuk dicatat bahwa makanan tidak menyebabkan jerawat $ecara lang$ung tetapi ada makanan tertentu yang diketahui memperburuk kondi$i

Wednesday, 5 February 2014

Faktor Penyebab Timbulnya Jerawat Usia Remaja




Cara Tubuh Sehat - Update Artikel Lagi Mengenai Faktor Penyebab Timbulnya Jerawat Usia Remaja.  $aat ma$a remaja, 10 ma$alah pada kulit wajah bia$anya mulai timbul, $eperti kulit berminyak, jerawat, ku$am, komedo hitam, komedo putih, pori-pori be$ar, noda beka$ jerawat (bintik hitam), kulit ka$ar, warna kulit tidak rata (akibat $el kulit mati), hingga kulit kemerahan akibat radang yang di$

Tuesday, 4 February 2014

Penyebab Utama Timbulnya Jerawat


Cara Tubuh Sehat - Update Artikel Lagi Mengenai Penyebab Utama Timbulnya Jerawat. $ebenarnya Jerawat memang bi$a kita obati, namun alangkah lebih baiknya jika kita mencegah jerawat itu timbul, bukan begitu?? Ibarat kata pepatah, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Karena $ejatinya jerawat yang $udah terlanjur membanyak itu $u$ah $ekali untuk $embuh total, alia$ hanya mengurangi $aja.Lalu

Monday, 3 February 2014

Sebab Timbulnya Jerawat di Wajah


Cara Tubuh Sehat - Update Artikel Lagi Mengenai Sebab Timbulnya Jerawat di Wajah  $ebenarnya Jerawat memang bi$a kita obati, namun alangkah lebih baiknya jika kita mencegah jerawat itu timbul, bukan begitu?? Ibarat kata pepatah, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Karena $ejatinya jerawat yang $udah terlanjur membanyak itu $u$ah $ekali untuk $embuh total, alia$ hanya mengurangi $aja.Dengan

Kumpulan Humor Nashrudin 3

Sama Rata Sama Rasa
 
Seorang filosof menyampaikan pendapat, "Segala sesuatu harus dibagi sama rata."

"Aku tak yakin itu dapat dilaksanakan," kata seorang pendengar yang skeptik.


"Tapi pernahkah engkau mencobanya ?" balas sang filosof.


"Aku pernah," sahut Nashrudin, "Aku beri istriku dan keledaiku perlakuan yang sama. Mereka memperoleh apa pun yang mereka inginkan."


"Bagus sekali," kata sang filosof, "Dan bagaimana hasilnya ?"


"Hasilnya ? Seekor keledai yang baik dan seorang istri yang buruk."


Manipulasi Deskripsi

Nashrudin kehilangan sorban barunya yang bagus dan mahal. Tidak lama kemudian, Nashrudin tampak menyusun maklumat yang menawarkan setengah keping uang perak bagi yang menemukan dan mengembalikan sorbannya.

Seseorang protes, "Tapi penemunya tentu tidak akan mengembalikan sorbanmu.


Hadiahnya tidak sebanding dengan harga sorban itu."


"Nah," kata Nashrudin, "Kalau begitu aku tambahkan bahwa sorban itu sudah tua, kotor, dan sobek-sobek."
 
Umur Nashrudin
 
"Berapa umurmu, Nashrudin ?"

"Empat puluh tahun."


"Tapi beberapa tahun yang lalu, kau menyebut angka yang sama."


"Aku konsisten."
 
Bahasa Kurdi
 
Tetangga Nashrudin ingin belajar bahasa Kurdi. Maka ia minta diajari Nashrudin. Sebetulnya Nashrudin juga belum bisa bahasa Kurdi selain beberapa patah kata. Tapi karena tetangganya memaksa, ia pun akhirnya bersedia.

"Kita mulai dengan sop panas. Dalam bahasa Kurdi, itu namanya Aash."
"Bagaimana dengan sop dingin ?"


"Hemm. Perlu diketahui bahwa orang Kurdi tidak pernah membiarkan sop jadi dingin. Jadi engkau tidak akan pernah mengatakan sop dingin dalam bahasa Kurdi."
 
Yang Tersulit
 
Salah seorang murid Nashrudin di sekolah bertanya, "Manakah keberhasilan yang paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu ?"

"Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya," kata Nasruddin.
"Apa itu?"


"Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya."
 
Harmoni Buah-Buahan

Nashrudin bersantai di bawah pohon arbei di kebunnya. Dilihatnya seluruh kebun, terutama tanaman labu yang mulai berbuah besar-besar dan ranum. Seperti biasa, Nashrudin merenung.

"Aku heran, apa sebabnya pohon arbei sebesar ini hanya bisa menghasilkan buah yang kecil. Padahal, labu yang merambat dan mudah patah saja bisa menghasilkan buah yang besar-besar."


Angin kecil bertiup. Ranting arbei bergerak dan saling bergesekan. Sebiji buah arbei jatuh tepat di kepala Nashrudin yang sedang tidak bersorban.


"Ah. Kurasa aku tahu sebabnya."
 
Penyelundup
 
Ada kabar angin bahwa Mullah Nashrudin berprofesi juga sebagai penyelundup. Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapislapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nashrudin memang sering harus melintasi batas wilayah.

Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. "Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu. Sekarang, jawablah penasaranku: apa yang engkau selundupkan ?"


"Jubah," kata Nashrudin, serius.
 
Jangan Terlalu Dalam
 
Telah berulang kali Nashrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nashrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu -- menyogok itu diharamkan. Maka Nashrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.

Nashrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nashrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nashrudin.


Nashrudin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?"


Hakim tersenyum lebar. "Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya." Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"


"Yah," jawab Nashrudin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam." Dan berlalulah Nashrudin.
 
Tampang Itu Perlu

Nashrudin hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah yang mengeluh.

"Tapi aku mengabdi kepada Allah saja," kata Nashrudin.


"Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah," kata istrinya.


Nashrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, "Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!" berulang-ulang. Tetangganya ingin mempermainkan Nashrudin. Ia melemparkan seratus keping perak ke kepala Nashrudin. Tapi ia terkejut waktu Nashrudin membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak "Hai, aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah."


Sang tetangga menyerbu rumah Nashrudin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya. Nashrudin menjawab "Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah."


Tetangganya marah. Ia mengajak Nashrudin menghadap hakim. Nashrudin berkelit, "Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang miskin."


Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.


Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nashrudin segera mengadukan halnya pada hakim.


"Bagaimana pembelaanmu?" tanya hakim pada Nashrudin.


"Tetangga saya ini gila, Tuan," kata Nashrudin.
"Apa buktinya?" tanya hakim.


"Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi pula uang saya."


Dengan kaget, sang tetangga berteriak, "Tetapi itu semua memang milikku!"


Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.
 
Membedakan Kelamin

Seorang tetangga Nashrudin telah lama bepergian ke negeri jauh. Ketika pulang, ia menceritakan pengalaman-pengalamannya yang aneh di negeri orang.


"Kau tahu," katanya pada Nashrudin, "Ada sebuah negeri yang aneh. Di sana udaranya panas bukan main sehingga tak seorangpun yang mau memakai pakaian, baik lelaki maupun perempuan."


Nashrudin senang dengan lelucon itu. Katanya, "Kalau begitu, bagaimana cara kita membedakan mana orang yang lelaki dan mana yang perempuan?"
 
Miskin Dan Sepi
 
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.

Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nashrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah.


"Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu.


"Jangan khawatir," jawab Nashrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."


Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?"


"Bukan begitu maksudku. Kau salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."
 
Hidangan Untuk Baju (1)

Nashrudin menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Dengan kecewa Nashrudin pulang kembali.

Namun tak lama, Nashrudin kembali dengan memakai pakaian yang baru dan indah. Kali ini Tuang Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya.


Tetapi Nashrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, "Hei baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu!"


Untuk mana ia memberikan alasan "Ketika aku datang dengan baju yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku."
 
Hidangan Untuk Baju (2)

Nashrudin menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dilihatnya seorang sahabatnya sedang asyik makan. Namun, di samping makan sebanyak-banyaknya, ia sibuk pula mengisi kantong bajunya dengan makanan.

Melihat kerakusan sahabatnya, Nashrudin mengambil teko berisi air. Diam-dian, diisinya kantong baju sahabatnya dengan air. Tentu saja sahabatnya itu terkejut, dan berteriak, "Hai Nashrudin, gilakah kau ? Masa kantongku kau tuangi air!"


"Maaf, aku tidak bermaksud buruk, sahabat," jawab Nashrudin, "Karena tadi kulihat betapa banyak makanan ditelan oleh kantongmu, maka aku khawatir dia akan haus. Karena itu kuberi minum secukupnya."
 
Kekekalan Massa
 
Ketika memiliki uang cukup banyak, Nashrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."

Ketika malam itu Nashrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja.


"Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"


Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"


Nashrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras, "Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?"
 
Terburu-Buru
 
Keledai Nashrudin jatuh sakit. Maka ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya. Begitu Nashrudin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara Nashrudin berpegangan di atasnya, ketakutan.

Nashrudin mencoba membelokkan arah kuda. Tapi sia-sia. Kuda itu lari lebih kencang lagi.


Beberapa teman Nashrudin sedang bekerja di ladang ketika melihat Nashrudin melaju kencang di atas kuda. Mengira sedang ada sesuatu yang penting, mereka berteriak, "Ada apa Nashrudin ? Ke mana engkau ? Mengapa terburu-buru ?"


Nashrudin balas berteriak, "Saya tidak tahu ! Binatang ini tidak mengatakannya kepadaku !"
 
Periuk Beranak

Nashrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia
mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.


"Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat."


Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nashrudin pun pulang.


Beberapa hari kemudian, Nashrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nashrudin,


Sambil terisak-isak, Nashrudin menyambut tamunya, "Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan."


Sang tetangga menjadi marah, "Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!"


"Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia," kata Nashrudin, sambil menghentikan isaknya.
 
Bahasa Burung
 
Dalam pengembaraannya, Nashrudin singgah di ibukota. Di sana langsung timbul kabar burung bahwa Nashrudin telah menguasai bahasa burung-burung. Raja sendiri akhirnya mendengar kabar itu. Maka dipanggillah Nashrudin ke istana.

Saat itu kebetulan ada seekor burung hantu yang sering berteriak di dekat istana.


Bertanyalah raja pada Nashrudin, "Coba katakan, apa yang diucapkan burung hantu itu!"


"Ia mengatakan," kata Nashrudin, "Jika raja tidak berhenti menyengsarakan rakyat, maka kerajaannya akan segera runtuh seperti sarangnya."
 
Jatuhnya Jubah

Nashrudin pulang malam bersama teman-temannya. Di pintu rumah mereka berpisah. Di dalam rumah, istri Nashrudin sudah menanti dengan marah. "Aku telah bersusah payah memasak untukmu sore tadi !" katanya sambil menjewer Nashrudin. Karena kuatnya, Nashrudin terpelanting dan jatuh menabrak peti. Mendengar suara gaduh, teman-teman Nashrudin yang belum terlalu jauh kembali, dan bertanya dari balik pintu, "Ada apa Nashrudin, malam-malam begini ribut sekali?"

"Jubahku jatuh dan menabrak peti," jawab Nashrudin.


"Jubah jatuh saja ribut sekali ?"


"Tentu saja," sesal Nashrudin, "Karena aku masih berada di dalamnya."

Relativitas Keju

Setelah bepergian jauh, Nashrudin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira, "Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.


"Alhamdulillah," puji Nashrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."


Tidak lama Nashrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.


"Adakah keju untukku ?" tanya Nashrudin.


"Tidak ada lagi," kata istrinya.


Kata Nashrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."


"Jadi mana yang benar ?" kata istri Nashrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"


"Itu tergantung," sambut Nashrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."


Ketakutan Mendatangkan Keajaiban

Untuk memberi hadiah kepada kaisar Timur Lenk, Nashrudin memasak seekor angsa. Tapi di tengah jalan, Nashrudin tidak dapat menahan diri sehingga memakan satu pahanya.


Kaisar yang menerima hadiah itu bertanya, "Dimana kaki yang satunya?" Nashrudin menjawab, "Semua angsa di kota ini berkaki satu." Ini sindiran buat Timur Lenk yang hanya berkaki satu, yakni pincang.
  
Nashrudin berkata lebih lanjut, "Jika anda tak percaya, lihatlah angsa di depan, di tepi kolam anda!" Memang saat itu angsa tersebut sedang berdiri di bawah terik matahari sambil mengangkat satu kakinya dan menyembunyikan kepalanya di dada. Timur Lenk memandang ke arah angsa tersebut dan untuk sementara menerima argumentasi Nashrudin.

Beberapa saat kemudian, secara diam-diam Timur Lenk memerintahkan pada pemusik kerajaan untuk mendekat ke kolam. Tak lama kemudian genderang dipukul, sehingga angsa itu pun terkejut setengah mati dan berlari kesana-kemari.


Timur Lenk lalu menoleh ke arah Nashrudin dan berkata, "Bagaimana kamu berani berbohong padaku?! Bukankah kamu lihat, angsa itu berjalan dengan dua kaki?!"

Nashrudin menjawab, "Tetapi anda lupa, bahwa ketakutan dapat mendatangkan keajaiban. Andaikata anda dilanda ketakutan sebagaimana hewan mengalami ketakutan, maka anda akan berlari dengan empat kaki."

Kumpulan Humor Nashrudin 2

Nashrudin Hoja
 
Nashrudin adalah seorang sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol. Sewaktu masih sangat muda, Nashrudin selalu membuat ulah yang menarik bagi teman-temannya, sehingga mereka sering lalai akan pelajaran sekolah.
 
Maka gurunya yang bijak bernubuwat: "Kelak, ketika engkau sudah dewasa,engkau akan menjadi orang yang bijak. Tetapi, sebijak apa pun kata-katamu, orang-orang akan menertawaimu."


Nashruddin Dan Filsafat
 
Ketika Timur Lenk menguasai kota Aq Syahr, datang seorang pengikut filsafat. Ia mengutarakan kepada Timur Lenk, dengan bantuan seorang juru bicara, bahwa ia ingin menguji ulama Aq Syahr.
 
Timur Lenk mengumpulkan seluruh ulama dan berkata pada mereka, "Seorang laki-laki ahli filsafat ingin menguji kalian. Jika tidak seorangpun dapat menjawab pertanyaannya, mereka menganggap bahwa negara Romawi tidak memiliki seorang ulama pun, dan bahwa ilmu itu telah sirna. Bila hal itu terjadi, harga diri kalian hilang."
 
Ulama Aq Syahr lalu berkumpul di suatu ruangan khusus dan memusyawarahkan masalah tersebut. Mereka agak putus asa memikirkan bagaimana caranya mengatasi bahaya yang siap menghadang di hadapan mereka. Bahkan mereka akan menyewa ulama dari luar daerah untuk menghadapinya, meskipun tempatnya jauh.
 
Akhirnya mereka sepakat untuk mengajukan Syekh Nashruddin. Mereka mengutus seseorang untuk menemuinya, dan Nashruddin pun menerima kedatangan mereka. Lalu diutarakanlah apa yang mengganggu pikiran mereka.
 
Nashruddin berfikir sejenak, lantas berkata: "Serahkan urusan ini kepadaku!"
 
Mereka bertanya, "Apa yang akan anda lakukan?"
 
Nashruddin menjawab, "Aku akan mengadakan tanya jawab dengannya. Jika jawabanku tepat, itu bagus. Bila tidak, aku pasti akan berkata 'Aku laki-laki jadzab, aku masuk sesuai kehendak hatiku'. Lalu kalian hendaknya berkata, 'Kami tidak menganggapnya sebagai orang pandai.' Lalu datangkan orang selain aku! Bila aku berhasil, kalian harus memberiku hadiah."
 
Mereka menjawab, "Baiklah, apapun yang anda inginkan, akan kami usahakan.Yang penting, laki-laki itu harus kalah."
 
Pada hari yang telah ditentukan, sebuah panggung didirikan di sebuah lapangan yang luas. Timur Lenk duduk dengan pakaian perang dikelilingi para prajurit yang bersenjata lengkap.
 
Laki-laki ahli filsafat itu hadir. Rambutnya tidak menarik dan bentuknya lucu. Ia lalu duduk di dekat singgasana kerajaan. seluruh hadirin menunggu kedatangan Syekh Nashruddin, rival ahli filsafat itu.
 
Nashruddin hadir dengan mengenakan surban besar dan berjubah. Di belakangnya mengiringi para muridnya, di antaranya Hamad. Mereka berdua masuk ke panggung dan Nashruddin duduk di sebelah Timur Lenk. Setelah minum dan istirahat sejenak, ahli filsafat itu maju ke tengah dan membuat lingkaran. Ia lalu menunggu jawabannya dengan memandang ke arah Nashruddin.
 
Nashruddin berdiri dan menancapkan tongkatnya tepat di tengah lingkaran. Ia membagi lingkaran menjadi dua bagian, dan memandang ke arah ahli filsafat. Lalu Nashruddin membuat garis lagi, sehingga lingkaran terbagi menjadi empat bagian. Tiga bagian menuju ke arah Nashruddin dengan isyarat jari dan satu bagian untuk si ahli filsafat. Nashruddin meletakkan kedua tangannya di belakang punggung yang diarahkan ke ahli filsafat. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin itu. Ia merasa, bahwa Nashruddin tahu apa yang dimaksudkannya.
 
Selanjutnya ahli filsafat membuat kedua tangannya dan membentuknya seperti kerah baju. Lalu kedua tangan itu diturunkan dari atas ke bawah dan jari jemarinya terbuka, lalu kedua tangannya dinaikkan ke udara beberapa kali. Nashruddin berbuat sebaliknya: membuka jari jemarinya dan iturunkan ke bawah. Ahli filsafat puas dengan apa yang dilakukan Nashruddin.
 
Setelah itu, ahli filsafat meletakkan jari jemarinya di atas tanah dan berjalan merangkak sebagaimana layaknya binatang. Ia mengisyaratkan ke arah perut, seakanakan keluar sesuatu dari dalam perutnya. Nashruddin mengeluarkan sebutir telur dari saku dan menggerakkan kedua tangannya seakan hendak terbang.
 
Melihat jawaban Nashruddin, ahli filsafat itu sangat puas dan kagum. Ia maju ke arah Nashruddin dan mencium tangannya dengan penuh penghormatan. Ia mengatakan, bahwa Aq Syahr beruntung mempunyai seorang cerdik pandai seperti Nashruddin.
 
Seluruh hadirin memberikan ucapan selamat kepada Nashruddin dan memberikan hadiah yang melimpah serta uang banyak. Bahkan ada yang menjanjikan harta benda di lain waktu. Tidak ketinggalan Timur Lenk memberi hadiah kepada Nashruddin dan menempatkannya di kelompok orang kaya.
 
Setelah semua penonton bubar, Timur Lenk dan para pengawalnya mengelilingi ahli filsafat dan bertanya dengan bantuan juru bahasa, "Kami tidak mengerti isyarat-isyarat yang anda lakukan dengan Syekh Nashruddin. Jelaskan kepada kami apa yang terjadi sebenarnya?"
 
Ahli filsafat menjawab, "Melihat perselisihan ulama filsafat Yunani dan ulama Bani Israil tentang terbentuknya alam semesta, saya tidak tahu apa pendapat ulama Islam tentang hal tersebut. Maka saya ingin mempelajarinya. Saya isyaratkan pada Nashruddin bahwa bumi itu bulat dan besar. Nashruddin membenarkan ucapan saya dan berkata, 'Bumi itu terbagi menjadi dua bagian. Setengah lingkaran utara dan setengah belahan selatan.' Lalu Nashruddin membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian ke arahnya dan satu bagian ke arahku. Ia mengisyaratkan, bahwa tiga bagian bumi adalah lautan dan satu bagian daratan. Nashruddin juga memberitahukan bahwa bumi terbagi menjadi tujuh negara. Lebih lanjut saya isyaratkan isi bumi dan rahasianya dengan mengangkat jari jemari ke udara dan menggerakkannya, maksudku tumbuh-tumbuhan, barang tambang dan bagaimana proses terjadinya. Syekh Nashruddin mengangkat kedua tangannya menunjuk ke bawah dan mengisyaratkan turunnya hujan adalah ke bawah, yang tercurah dari langit. Kekuatan matahari dan pengaruh makhluk angkasa di bundaran bumi membantu proses bumi, sehingga mendatangkan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Cara Nashruddin menjelaskan hal itu sesuai dengan pendapat ulama filsafat periode akhir. Kemudian aku isyaratkan tentang perkembang-biakan makhluk dengan melalui proses pembuahan. Namun banyak yang terlewatkan olehku, lalu Nashruddin bermaksud menunjukkan sebagian dari makhluk secara global. Karena itu, saya jadi tahu bahwa Syekh kalian memang pandai dan menguasai pengetahuan tentang langit dan bumi, maupun ilmu logika dan ketuhanan. Dan ia termasuk seorang ahli filsafat. Kalian patut bangga dengan adanya ahli filsafat seperti dia di negeri kalian."
 
Lalu mereka berpamitan kepada ahli filsafat dengan penuh penghormatan. Setelah itu mereka ganti menjumpai Nashruddin dan meminta penjelasan atas jawaban-jawabannya.
 
Berkatalah Nashruddin kepada mereka, "Ahli filsafat itu sedang kelaparan seperti halnya diriku. Ketika ia menggambar lingkaran, maksudnya adalah bahwa di depan rumahnya terdapat kue berbentuk seperti lingkaran yang dibuatnya. Aku membaginya menjadi dua bagian dengan maksud agar sama rata. Akan tetapi, karena ia tidak faham, aku membaginya menjadi empat bagian. Tiga bagian untukku dan satu bagian untuknya. Ia setuju dan mengiyakan dengan isyarat kepala.
 
Selanjutnya, ia mengisyaratkan beras di atas api. Aku isyaratkan kepadanya tentang memasukkan pula bumbu, garam, kismis, dan fustuq ke dalamnya. Ketika berjalan ia bermaksud memberitahukan bahwa dirinya sangat lapar dan menginginkan makanan lezat. Aku isyaratkan kepadanya, bahwa dirku bahkan lebih lapar darinya yang nyaris membuatku terbang karenanya. Pagi hari aku ingin membuat kue, namun yang kutemukan hanya sebutir telur pemberian istriku. Aku belum sempat menelannya ketika kalian memanggilku. Lalu kumasukkan ke dalam saku dan menjaganya secara hati-hati."
 
Seluruh hadirin berkata, "Demi Allah, ini hal yang hebat dan menakjubkan! Bagaimana anda mengerti permasalahannya dan menjawab seperti itu? Ahli filsafat menerima dan membenarkan jawaban Anda, padahal jawaban Anda tersebut tidak seperti yang diinginkannya." Demikianlah, mereka semua bergembira dan tertawa riang lalu pulang ke rumah masing-masing. Sekalipun demikian mereka tetap bingung.
(baca cerita sejenis dari tradisi Kristiani dan Zen Buddha)
 
Perusuh Rakyat
 
Kebetulan Nashrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena ingin tahu, Nashrudin mencoba mendekati pintu istana. Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.
 
"Menjauhlah engkau, hai mullah!" teriak pengawal. [Nashrudin dikenali sebagai mullah karena pakaiannya]
 
"Mengapa ?" tanya Nashrudin.
 
"Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !"
 
"Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?"
 
"Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !"
 
"Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?" kata Nashrudin sambil beranjak dari tempatnya.
 
Api
 
Hari Jum`at itu, Nashrudin menjadi imam Shalat Jum`at. Namun belum lama ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk, dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,
 
"Api ! Api ! Api !"
 
Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,
 
"Dimana apinya, Mullah ?"
 
Nashrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya,"Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah."
 
Yang Benar-Benar Benar
 
Nashrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nashrudin berkomentar: "Aku rasa engkau benar."
 
Petugas majelis membujuk Nashrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nashrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nashrudin kembali berkomentar: "Aku rasa engkau benar."
 
Petugas mengingatkan Nashrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah ! Nashrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar: "Aku rasa engkau benar."
 
Tampak Seperti Wujudmu
 
Nashrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.
 
"Oh kasih yang agung. Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu. Segala yang tampak oleh mataku. Tampak seperti wujud-Mu."
 
Seorang tukang melucu menggodanya, "Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?"
 
Nashrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten:  "Tampak seperti wujudmu."
 
Mimpi Religius
 
Nashrudin sedang dalam perjalanan dengan pastur dan yogi. Pada hari kesekian, bekal mereka tinggal sepotong kecil roti. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu.
 
Setelah debat seru, akhirnya mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi paling relijius. Tidurlah mereka.
 
Pagi harinya, saat bangun, pastur bercerita: "Aku bermimpi melihat kristus membuat tanda salib. Itu adalah tanda yang istimewa sekali."
 
Yogi menukas, "Itu memang istimewa. Tapi aku bermimpi melakukan perjalanan ke nirwana, dan menemui tempat paling damai."
 
Nashrudin berkata, "Aku bermimpi sedang kelaparan di tengah gurun, dan tampak bayangan nabi Khidir bersabda 'Kalau engkau lapar, makanlah roti itu.' Jadi aku langsung bangun dan memakan roti itu saat itu juga.
 
Nasib Dan Asumsi
 
"Apa artinya nasib, Mullah ?"
 
"Asumsi-asumsi."
 
"Bagaimana ?"
 
"Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah itu yang disebut nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa halhal tertentu akan menjadi buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi. Itu nasib baik namanya. Engkau punya asumsi bahwa sesuatu akan terjadi atau tidak terjadi, kemudian engkau kehilangan intuisi atas apa yang akan terjadi, dan akhirnya berasumsi bahwa masa depan tidak dapat ditebak. Ketika engkau terperangkap di dalamnya, maka engkau namakan itu nasib."
 
Menjual Tangga
 
Nashrudin mengambil tangganya dan menggunakannya untuk naik ke pohon tetangganya. Tetapi sang tetangga memergokinya.
 
"Sedang apa kau, Nashrudin ?"
 
Nashrudin berimprovisasi, "Aku ... punya sebuah tangga yang bagus, dan sedang aku jual."
 
"Dasar bodoh. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!" kata sang tetangga,marah. Nashrudin bergaya filosof. "Tangga, bisa dijual di mana saja."
 
Jatuh Ke Kolam
 
Nashrudin hampir terjatuh ke kolam. Tapi orang yang tidak terlalu dikenal berada di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada saat yang tepat. Namun setelah itu, setiap kali bertemu Nashrudin orang itu selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nashrudin berterima kasih berulang-ulang.
 
Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nashrudin mengajaknya ke lokasi, dan kali ini Nashrudin langsung melompat ke air.
 
"Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana!"
 
Pada Sebuah Kapal
 
Nashrudin berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan, tetapi Nashrudin selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk. Orang-orang tak mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para penumpang mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong. Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat.
 
"Teman-teman!" teriak Nashrudin. "Jangan boros dengan janji-janji indah! Aku melihat daratan!"

Jubah Hitam
 
Nashrudin berjalan di jalan raya dengan mengenakan jubah hitam tanda duka, ketika seseorang bertanya, "Mengapa engkau berpakaian seperti ini, Nashrudin? Apa ada yang meninggal."
 
"Yah," kata sang Mullah, "Bisa saja terjadi tanpa kita diberi tahu."
 
Pelayan Raja
 
Nashrudin menjadi orang penting di istana, dan bersibuk mengatur urusan di dalam istana. Suatu hari raja merasa lapar. Beberapa koki menyajikan hidangan yang enak sekali.
 
"Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia, Mullah ?" tanya raja kepada Nashrudin.
 
"Teramat baik, Tuanku."
 
Maka raja meminta dimasakkan sayuran itu setiap saat. Lima hari kemudian, ketika koki untuk yang kesepuluh kali memasak masakan yang sama, raja berteriak: "Singkirkan semuanya! Aku benci makanan ini!"
 
"Memang sayuran terburuk di dunia, Tuanku." ujar Nashrudin.
 
"Tapi belum satu minggu yang lalu engkau mengatakan bahwa itu sayuran terbaik."
 
"Memang benar. Tapi saya pelayan raja, bukan pelayan sayuran."